TYTO alba tak efektif di Sleman, namun cukup baik sebagai predator tikus di wilayah Bantul. Bedanya adalah luas wilayah. Kabid Tanaman Pangan, Hortiluktura, dan Perkebunan, Dinas Pertanian, Pangan, Kelautan, dan Perikanan Bantul Yunianti Setyorini mengatakan, rata-rata luas lahan yang diserang tikus di wilayahnya hanya 200 ha per tahun. Tak seluas Sleman yang mencapai ribuan hektare.

Den Baguse menjadi momok utama petani Bantul sejak lima tahun lalu. Populasi tikus sangat cepat, sehingga sulit dikendalikan. Terutama di wilayah Sedayu. Penurunan serangan tikus, menurut Yunianti, berkat keberhasilan tyto alba. Enam pasang tyto alba dilepas lima tahun lalu. “Hasilnya, petani Sedayu jarang mengalami gagal panen,” ujarnya.

Dikatakan, tyto alba tak menimbulkan efek samping bagi tanaman padi. Pun tak menimbulkan kerusakan. Karena tyto alba hanya memburu tikus.

Hanya, di Bantul juga ada pemburu liar tyto alba. Untuk menekannya, beberapa desa melarang perburuan burung hantu. Larangan itu diatur dalam peraturan desa. Seseorang yang diketahui menangkap burung hantu akan dijatuhi sanksi.

Kendati mengandalkan tyto alba, gropyokan tikus tetap dilakukan. Juga pengasapan sarang tikus. Pun penggunaan bahan kimia. Namun, penggunaan bahan kimia hanya jika dirasa mendesak. “Tapi sebisa mungkin kami hindari bahan kimia. Karena akan merusak ekosistem alam sekitarnya,” jelasnya.

Sementara itu, Koordinator Petugas Pengendali Organisme Penggagu Tanaman, Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprgo Wahyu Wiyajanto mengklaim tak pernah terjadi gagal panen akibat serangan tikus selama desairan lima tahun terakhir.

“Tikus hanya menyerang daerah tertentu yang dekat dengan Sleman. Seperti di nanggulan, Girimulyo, dan Kalibawang,” bebernya.

Gropyokan tikus juga dilakukan petani Kulonprogo. Juga dengan teknik emposan, umpan, dan sanitasi lahan. Menurut Wahyu, serangan tikus di Kulonprogo tak semasif Sleman. Namun bukan hanya padi yang diserang. Den Baguse juga menyerang tanaman jagung dan kedelai. “Dari sekian banyak cara yang dilakukan paling efektif sanitasi lahan dan gropyokan,” katanya.

Agar tak merajalela, kemunculan tikus harus cepat dikendalikan sedini mungkin dan secara kontinyu. “Tak menunggu ada serangan. Jika diketahui ada tikus, langsung digiatkan (gropyokan, Red),” ungkap Kepala Bidang Tanaman Pangan Kulonprogo Tri Hidayatun.

Tri menilai, gropyokan memang paling efektif untuk menangkal serangan hama tikus. Dilakukan setiap saat. Melibatkan seluruh petani. Bahkan di setiap kecamatan telah dibentuk unit reaksi cepat (URC). “Ketika ada serangan di satu wilayah, semua digerakkan ke titik itu,” ucapnya.

Tim URC melakukan pengamatan berjenjang. Mereka intensif mendampingi petani. Sasaran mereka tidak hanya tikus. Tapi juga hama lainnya. Itu sebagai langkah cepat penanggulangan hama tanaman. (cr5/tom/yog/tif)