JOGJA – Keberhasilan UMY mencetak lulusan sarjana hukum menarik perhatian mahasiswa Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM). Sebagai bukti, 18 ma-hasiswa Malaysia belajar sistem hukum yang diajarkan pada mahasiswa serta penerapannya di Indonesia. Selama di UMY mereka akan mengikuti perkuliahan dan me-mantau langsung terhadap pro-ses penanganan perkara yang ada di Indonesia. “Kedatangan mahasiswa Malaysia penting untuk persiapan AEC 2015,” kata Direktur International Pro-gram for Low and Sharia (Ipol) UMY Nasrullah SH, Sabtu (24/1)
Nasrullah menerangkan, AEC tidak sekadar membuka pasar ekonomi di tingkat ASEAN tapi juga membuka semua peluang lulusan sarjana hukum dari ber-bagai negara, baik Malaysia ke Indonesia maupun dari Indo-nesia ke Malaysia.Paralulusan jugaberpeluang untuk mengambil peran dalam masyarakat ekonomi ASEAN, yang akan lebih memfokuskan dirinya pada bidang hukum.
Selain itu, kunjungan itu pen-tingdalam meningkatkan pe-mahaman ilmu hukum, baik kepada mahasiswa dari Malay-sia maupun mahasiswa FH UMY. “Saya melihat kunjungan ini merupakan kunjungan yang penting terhadap pemahaman hukum. Kunjungan ini akan sangat bermakna bagi teman-teman dari Malaysia bahwa Indonesian legal system itu se-perti apa. Kita pun harus sema-kin membuka diri sebagai ma-hasiswa akan pemahaman tentang common law system,” terang Hasrullah.
Ia menceritakan, banyak orang Malaysia yang memuji UMY. Sebab, ada banyak kemajuan yang telah dilakukan seperti pengembangan studi bidang pendidikan, keseha-tan dan lain-lain secara mandiri.”Malaysia bangga kepada Mu-hammadiyah yang mampu meng-gerakkan organisasi muslim, sehingga mewujudkan institusi pendidikan dan kesehatan. Pre-stasi ini tidak dimiliki umat mus-lim di Malaysia,” terang Hasrullah.
Dosen FH UMY Martino Sardi mengatakan, Malaysia tertarik dengan hukum hak asasi ma-nusia di Indonesia. Sebagai contoh, setiap orang Indonesia bebas melaksanakan ibadah dan mengubah kepercayaan walau-pun di dalam Islam tidak dibo-lehkan untuk mengganti keper-cayaan. (mar/laz/ong)