DWI AGUS/RADAR JOGJA
KRITIKAN BUDAYA: Salah satu karya seni Wayan Updana berupa babi mandi coklat yang dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta hingga besok (8/11)
JOGJA – Bali merupakan kota yang kuat akan seni dan nilai re-ligiusitasnya. Kedua hal tersebut dapat terintegrasi hingga men-jadi karya yang indah. Kekuatan ini bersanding dengan atmosfer yang kuat dan mendukung untuk sebuah eksplorasi.Keistimewaan ini coba diangkat oleh seniman asal Bali, Wayan Upa-dana. Bertajuk “Home”, dirinya meng-gelar pameran tunggal di Bentara Budaya Yogyakarta hingga 8 Novem-ber besok. Ragam karya patung yang berpadu dengan nilai religiusitas tersaji dalam pameran tersebut.
“Pameran kali ini mengangkat wajah Bali saat ini seperti apa. Rumah yang saya rindukan, seakan hilang auranya. Berganti dengan nilai-nilai konsumerisme,” katanya.Upadana merupakan seniman yang lahir pada era 80-an. Men-urutnya, generasi ini berbeda dengan periode seni rupa klasik di Bali. Secara spesifik dirinya berkarya dengan objek yang tidak biasa. Seperti mengangkat objek-objek konsumsi yang tak asing dalam masyarakat konsumer.
Dalam kreasinya, objek-objek ini dibenturkan dengan simbol-sim-bol sakral. Keduanya dipertemu-kan dalam home, sebagai konsep pameran tunggalnya ini. Di sinilah dirinya kembali menguatkan kerin-duannya terhadap rumah.”Juga merupakan wujud kritik atas pengaruh negatif dari budaya pariwisata. Saat ini, Bali ibarat sebuah bagian dari gravitasi eko-nomi global. Kehidupan sakral yang menjadi dasar kesenian di Bali, terpaksa hidup bersamaan dengan kehidupan yang bersifat materialistis,” ungkapnya.
Menurutnya, gejala tersebut tidak saja berlangsung di Bali, nyaris ter-jadi di banyak tempat. “Ini bukan lagi gejala khas di Bali, namun telah menjadi gejala global,” tandasnya.Tentang kritikannya ini juga tertuang dalam karyanya yang bertajuk “Couple in Paradise atau Glo (Babi) Sation”. Dalam kedua karya ini dirinya mengangkat so-sok binatang babi sebagai objek karya. Binatang berkaki empat ini tampak menikmati waktunya berkubang dalam coklat. Ada pula karya bertajuk Silence Process (the process series) yang menam-pilkan kepala Barong dengan tubuh manusia sedang bersila.
Dalam kesempatan ini pula dirinya bercerita tentang sebuah karya re-lief di rumahnya Gianyar Bali. Karya ini merupakan karya relief dengan pahatan halus. Karya peninggalan leluhurnya tersebut memancarkan keindahan religiusitas yang ditaruh di tempat sembahyang.”Objek inilah yang mengilhami untuk mengidamkan rumah di tengah globalisasi rumah. Yaitu rumah yang tidak memiliki sekat, dinding yang memisahkan kerja seni dengan semangat religiusitas,” tuturnya. (dwi/jko/ong)