JOGJA – Industri properti di DIJ selama 2014 diprediksi mengalami pelambatan. Bahkan pelambatan bisa mencapai 10 hingga 20 persen dibandingkan sebelumnya. Kendati begitu para pengembang masih tetap optimistis.Meskipun tahun ini berbarengan dengan tahun politik, penyebab utama pelambatan justru bukan dari faktor Pemilu tersebut. Tetapi terpengaruh Surat Edaran (SE) BI terkait aturan baru mengenai Loan to Value (LTV). Juga masih terpengaruh dengan kenaikan BI Rate yang ditetapkan tahun lalu. “Selain itu juga karena kenaikan harga tanah akibat ulah spekulan,” ujar Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) REI DIJ Remigius Edi Waluyo kemarin (15/1).Menurut Remi, sapaannya, aturan SE BI dan kenaikan BI Rate baru dirasakan pada akhir tahun 2013 lalu dan awal 2014 ini. Terutama untuk Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Perbankan menjadi lebih selektif dan berhati-hati ketika hendak mengeluarkan kreditnya. Banyak perbankan yang juga tidak berani, sehingga memberatkan pengembang. Disamping itu banyak juga konsumen, jelas Remi, yang kemudian membatalkan niatnya membeli untuk properti.Sementara untuk gelaran Pemilu, disebutnya tidak terlalu berpengaruh. Pihaknya berharap stabilitas politik dapat terjaga baik karena akan berdampak pada stabilitas ekonomi. Remi justru menyebut faktor harga tanah di DIJ yang terus meningkatlah yang mempengaruhi industri properti. Akibat ulah spekulan, harga tanah di DIJ merangkak cepat di semua wilayah DIJ. “Yang paling terpengaruh kenaikan harga tanah, yang landed house. Beda kalau yang hunian vertikal,” ungkapnya.Kondisi itu membuat para pengembang tidak terlalu berani untuk ekspansi. Mereka memilih untuk wait and see. Selain itu, industri properti juga terpengaruh dengan masih belum stabilnya nilai tukar rupiah. Hal itu membuat kenaikan harga pada komponen pembangunan yang masih impor. Secara tidak langsung, terang dia, nantinya juga akan mempengaruhi harga properti.Sementara itu General Manager Busniness Development Ciputra Grup D Agung Krisprimandoyo mengungkapkan pihaknya tetap optimistis dengan pasar properti tahun ini. Menurutnya meskipun bersamaan dengan tahun politik, tetapi properti akan terkoreksi sedikit. “Selain itu kami optimistis situasi KPR juga sudah stabil setelah dikeluarkanya SE BI tahun lalu,” tuturnya. (pra/ila)