JOGJA – Tempat pengelolaan sampah terpadu (TPST) Piyungan dituding sebagai biang keladi gagalnya Kota Jogja, Kabupaten Sleman dan Bantul kembali meraih piala Adipura. Pemprov DIJ sebagai pengelolanya pun menyiapkan metode pengolahan sampah baru.

“Memang saat ini (TPST) Piyungan di Kabupaten Bantul misalnya, saat ini dalam kondisi melebihi kapasitas atau overload,” kata Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X, Rabu(13/3).

Untuk solusi perluasan lahan, HB X mengaku sulit terealisasi. Karena itu Pemprov DIJ fokus pada mengolah sampah menjadi energi terbarukan. Menurut dia, sudah ada rencana tersebut.  “Kami mau bikin industri yang bisa mengolah menjadi pupuk atau listrik,” ujar HB X.

Ayah lima puteri itu pun mengungkapkan, sudah menyiapkan skema kerja sama pemerintah dengan badan usaha (KPBU). Dengan melibatkan swasta, Pemprov DIJ juga diuntungkan dengan tidak terbebaninya APBD untuk pembiayaan.

Terpisah Kepala Bidang Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan, dan Energi Sumber Daya Mineral (PUP ESDM) DIJ Muhammad Mansur membenarkan skema KPBU tersebut. Skema itu pun meliputi hal yang berkaitan dengan teknologi pengolahan dan penanganan limbah. “Ya, skemanya termasuk pengolahan dan penanganan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3),” tuturnya.

Hingga kini pihaknya masih terus berkoordinasi dengan Pemkab Sleman, pemkab Bantul dan Pemkot Jogja terkait upaya pengolahan sampah. Mansur berharap, tiap wilayah bisa mengoptimalkan pengolahan sampah. Sehingga sampah yang dibawa ke TPST Piyungan adalah yang tidak bisa didaur ulang.

Terkait dengan metode pengolahan sampah di TPST, anggota Komisi C DPRD Kota Jogja Emanuel Ardi Prasetya sebelumnya sempat mengusulkan alternatif pengelolaan sampah. Seperti menggunakan metode incenator. Yaitu dengan membakar sampah.

Menurut dia, saat ini kondisi di TPST Piyungan jauh dari ideal. Hanya menumpuk sampah persyaratan minimal dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), tidak lagi menggunakan sistem open dumping, tapi minimal menggunakan sistem controlled landfill dan paling baik dengan sistem sanitary landfill. (cr9/pra/mg2)