KULONPROGO – Keberhasilan Polres Kulonprogo dalam mengungkap produsen dan pengedar uang palsu (upal) menjadi catatan prestasi tersendiri bagi korp Bhayangkara. Dengan pengungkapan ini, secara tidak langsung telah menyelamatkan negara dari kerugian yang cukup besar.

Seperti diketahui, pengungkapan upal di wilayah hukum Polres Kulonprogo berangkat dari penangkapan tersangka pengedar upal di Pasar Jagalan, Desa Banjaroyo, Kalibawang. Pelaku merupakan residivis. Dari situ polisi berupaya mengungkap jaringan serta kemungkinan distributor besar di atasnya.

“Tersangka merupakan residivis dalam kasus yang sama yang tertangkap di Kudus. Bebas tahun 2016, ia tertangkap lagi di Kulonprogo ini dengan kasus dan modus yang sama,” ujar Kapolres Kulonprogo AKBP Anggara Nasution, Kamis(14/3).

Saat ditangkap tersangka Kusnin, 47, diamankan bersama istrinya Sri Miharti, 27, keduanya tercatat sebagai warga Jepara, Jawa Tengah. Polisi menduga kuat keduanya merupakan bagian jaringan pengedar upal. Dikuatkan dengan pengakuan tersangka yang mendapatkan uang palsu dari Batang dengan membeli 300 lembar pecahan 100 ribu seharga Rp 2 juta.

Saat dibekuk, tersangka tidak bisa mengelak karena terbukti membelanjakan upal pecahan Rp 100 ribu untuk membeli pisang. Apesnya, penjual pisang (Abdul Kafid) yang juga dimintai keterangan sebagai saksi, menyadari bahwa yang digunakan tersangka untuk transaksi adalah upal.

Polisi juga berhasil menyita barang bukti 267 lembar upal pecahan Rp 100 ribu. Dua lembar upal diakui telah dibelanjakan di Pasar Jagalan, Desa Banjaroyo. Sisanya kemungkinan dibelanjakan di sepanjang perjalanan dari Batang hingga Kulonprogo.

Barang bukti lain adalah minibus Toyota Sienta, empat keranjang pindang, dan satu sisir pisang. Kemudian uang pecahan Rp 50 ribu sebanyak 33 lembar asli hasil kembalian. Tindakan tersangka sangat merugikan masyarakat, khususnya pedaang-pedagang kecil yang tidak tahu.

Menurut Anggara, kualitas upal sebenarnya tidak terlalu bagus. Nomor serinya hampir semua sama, hanya beberapa saja yang beda. Namun apabila masyarakat tidak awas, tidak dilihat, diraba dan diterawang, sepintas mirip uang asli.

Perwira menengah ini juga menduga Sri Miharti tahu dan membantu suaminya dalam melancarkan aksi, sehingga masuk turut serta mengedarkan upal. “Kedua tersangka dikenakan Pasal 36 Ayat 3 Jo Pasal 26 Ayat 3 UU RI Tahun 2011 tentang Upal dengan ancaman hukuman penjara 10 tahun,” ujarnya.

Kerja keras Polres Kulonprogo mengungkap kasus upal ini tidak berselang lama setelah tersangka AW, 30, warga Pekalongan, berhasil dibekuk  berikut barang bukti di rumah kontrakan di Semarang. Barang bukti yang berhasil disita adalah perlengkapan pencetak uang palsu, 900 lembar upal pecahan Rp 100 ribu dan Rp 50 ribu, satu set komputer meja, satu unit laptop, tiga unit printer beserta tinta printer berbagai warna, tiga buah lampu neon, enam screen sablon beserta tiga rachel sablon, dan cat sablon berbagai warna.

“Kami juga mengamankan tiga rim kertas resta, obat afdruk, kertas afdruk dan botol berisi serbuk fosfor untuk membuat tanda air pada uang palsu. Semua kami sita dari rumah kontrakan tersangka,” jelas Anggara.

Menurut Kapolres, AW juga seorang residivis kasus serupa. Pelaku baru saja menjalani hukuman di Slawi, Jateng, selama dua tahun 11 bulan dan bebas pada November 2018. Berbekal pengalaman memalsukan uang, polisi menyebut AW pelaku profesional.

“Uang palsu yang dicetak AW memiliki berbagai kemiripan dengan uang asli. Bahkan ketika uang palsu buatan AW dicek menggunakan lampu ultraviolet (UV), muncul pula tanda air selayaknya uang asli,” ujarnya.

Di hadapan petugas, tersangka AW mengaku berani mencetak uang palsu berdasarkan pesanan. Ia menjual uang palsu dengan harga Rp1 juta untuk lima puluh lembar uang palsu pecahan seratus ribu atau senilai lima juta. Kelihaian mencetak uang palsu dia dapatkan setelah sekian lama menggeluti dunia percetakan.

“Untuk membuat uang palsu yang mirip dengan aslinya saya menggunakan teknik sablon kaus untuk membuat tekstur kertas serupa uang asli. Hasilnya untuk memenuhi kehidupan sehari-hari,” kilahnya.

Mempertanggungjawabkan perbuatannya, polisi menjerat AW dengan Pasal 36 Ayat 3 Jo Pasal 26 Ayat 3 dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun penjara dan Pasal 36 Ayat 2 juncto Pasal 26 Ayat 2 dengan ancaman hukuman maksimal 10 tahun penjara sesuai UU Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang subsider Pasal 55 KUHP. (tom/laz/mg2)