JOGJA – Industri games berbasis mobile, kian diminati. Melihat itu, sejak 2017 lalu, MerapiTech memilih fokus pada industri games, dan aplikasi mobile. CEO MerapiTech, Antonius Fran Setiawan menegaskan, industri ini disebut paling potensial dibandingkan dengan industri konvensional. “Dari biaya produksi, relatif kecil, meski investasinya besar. Sementara usernya bisa dari negara mana saja,” kata Antonius Fran Setiawan saat ditemui Radar Jogja di kantornya, Jalan Arimbi No.78, Kragilan, Kricak, Tegalrejo, Jogja.

Menurut pria yang akrab disapa Fran ini, industri games dinilai lebih fleksibel, dari proses pengerjaan. Lokasi, maupun tenaga kerja juga tidak harus berada di satu kantor. “Sangat fleksibel,” tegasnya. Selama kurang lebih 1,5 tahun, tim MerapiTech sedang mengerjakan proyek game strategi terbaru. Game yang akan diluncurkan bulan depan ini, bernama After World. “Game strategi yang kami buat ini jenisnya seperti city building. Di pasaran mungkin game semacam ini sudah lesu, tapi kami berkeyakinan masih ada peluang yang cukup bagus di situ,” ungkapnya.

Game yang bisa dimainkan oleh anak-anak usia 3 tahun ke atas sampai dewasa ini, mempunyai keunikan tersendiri. Berbeda dengan game city building sejenisnya, After World memiliki sembilan pantheon dengan lima pilihan bangsa. “Sembilan Pantheon ini diambil dari sembilan mitologi di dunia. Pemain juga bisa menaklukan sembilan pulau atau pantheon lawan tersebut,” ujarnya.

Memainkan game ini, juga tidak perlu intens. Bisa berhenti kapan saja, dan bisa dilanjutkan sesuai keinginan. “Pokoknya fleksibel dan oke banget,” katanya.
Perbedaan lainnya, dalam game ini akan ada 90 heroes. Di setiap Pantheon ada 10 heroes dengan karakter yang disesuaikan, seperti mitologi asalnya. “Heroes tersebut bisa dijualbelikan secara system,” katanya.

Tentang proses produksi game, Fran mengaku lebih sulit dari pada penggunaannya. Tantangan besar dalam membuat game adalah teknisnya. “Apalagi membuat game yang besar, bisa melibatkan banyak pihak, designer grafis, game development, dan lain sebagainya. Di MerapiTech ada 22 orang untuk produksi saja, non produksi 4-5 orang,” pungkasnya. (*/ita/jko/mg4)