JOGJA – Brigadir Triyono, 40, telah memulai usaha minuman susu sejak tahun 2006. Bintara Urusan Musik (Ursik) Pelayanan Markas (Yanma) Polda DIJ ini bersama istrinya membuka lapaknya usai bekerja di Polda DIJ. Menawarkan beberapa varian rasa susu sejak sore hari, tidak jauh dari Markas Polda DIJ.

SEVTIA EKA NOVARITA, Sleman 

Tercetus nama Papiti di tahun 2006, Triyono masih berjualan susu di lapak kaki lima sampai tahun 2012. Di tahun itu, ia bertekad menyewa tempat  yang sesuai untuk melanjutkan usahanya. Berada di pinggir jalan utama Ringroad Utara, Condongcatur, Depok, Triyono mulai melebarkan sayap. Tidak hanya minuman, kini Triyono mulai menjual aneka camilan dan makanan untuk pendamping susu miliknya. Dan menjadikan Papiti Milk and Food, sebagai nama usaha baru miliknya.

“Sudah ada macam-macam selain roti bakar dan pisang goreng. Ada aneka sup, nasi goreng sampai dengan penyetan,” jelas Triyono saat ditemui di tempat makan miliknya, Kamis(14/3).

Bersama istrinya, Triyono bahu-membahu dalam mengurus usahanya. Pemilihan bahan baku yang baik adalah kunci utama dalam menjaga kualitas makanan. Untuk berbagai varian susu, susu murni yang didapatkan Triyono adalah murni dari peternak sapi di daerah Kaliurang.

Mengambil setiap hari sesuai kebutuhan tempat makan, Triyono mampu menghabiskan 100 hingga 120 liter susu murni. Mengingat susu murni hanya bisa bertahan sampai dua hari. Dan susu yang telah dimasak, hanya akan bertahan satu hari.

Sedangkan untuk campuran rasa, seperti jahe, melon, coklat, vanila, kopi, dan green tea ia dapatkan melalui impor dan pasar tradisional. “Untuk rasa memang sangat diperhatikan. Untuk mendapatkan resep dengan takaran bahan yang sesuai melalui proses panjang,” ucapnya.

Saat ini Triyono dibantu delapan karyawan dan telah menawarkan lebih dari 30 varian rasa susu. Dengan harga berkisar antara Rp 7.000 – Rp 18.000. Sedangkan untuk makanan, dibanderol dengan harga mulai  Rp 3.000 sampai Rp 20.000.

Melalui penjualan kedainya, ia mampu menghasilkan omzet kotor Rp 4 juta – Rp 5 juta setiap harinya. Tidak hanya itu, kini Triyono dan istri memiliki tempat makan khusus bakso, mi ayam dan aneka sup di daerah Karangasem. Usahan ini telah berjalan selama lima tahun.

Untuk ke depan Triyono masih akan terus mempertahankan mutu makanan dan minuman miliknya. Sedangkan untuk membuka cabang dengan menu yang berbeda, ia dan istri masih merencanakan hal tersebut. “Kalau ada kesempatan mau membuka makanan yang lain, mengingat istri juga suka memasak,” jelasnya. (laz/mg2)