Wajah boleh sama tapi nasib bisa saja berbeda. Itulah Setiyo alias Timan, 54. Para tetangga menyebutnya Jokowi “KW”. Sekilas wajah warga Gowok, Kebonharjo, Samigaluh, Kulonprogo, itu memang mirip dengan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

HEDNRI UTOMO, Kulonprogo

DARI kejauhan sayup-sayup terdengar irama angklung nan merdu. Iramanya mewarnai suasana pedasaan Bukit Menoreh Kamis (14/3). Menambah syahdu kesejukan Menoreh pagi itu. Setelah ditelusuri suara itu ternyata datang dari rumah Setiyo. Alias Timan. Saat itu dia sedang memainkan lagu Gambang Suling.

Keseharian Timan tak pernah jauh dari bilah bambu. Timan bukan hanya hobi memainkan angklung. Dia juga mampu membuat alat musik khas Jawa Barat itu. Berbekal sisa potongan bambu di sekitar rumahnya.

Timan kini bahkan memproduksi angklung untuk memenuhi pesanan pelanggan yang penasaran. Penasaran oleh kemiripan wajahnya dengan Jokowi.
Timan cukup terkenal di kalangan warga Menoreh. Bukan hanya karena dia ahli memainkan angklung. Pun bukan karena kemampuannya membuat angklung. Tapi ada yang lebih khas. Yakni wajahnya. Yang sangat mirip wajah Presiden Jokowi. Itulah daya tariknya. Bahkan foto-fotonya bersama keluarga telah beredar luas di laman media sosial. Dikomentari banyak warganet. Menurut mereka bukan hanya raut wajah yang mirip Jokowi. Tapi juga perawakannya.

Kendati dianggap mirip dengan orang nomor satu di Indonesia, Timan tetaplah Setiyo. Warga biasa. Pembuat angklung. Sebaliknya, Timan malah merasa tak berwajah mirip Jokowi. Namun setiap berpapasan dengan orang yang belum mengenalnya, selalu saja dibilang mirip Jokowi. Tak mengelak, dia pun punya keinginan bertemu Jokowi. Yang bukan KW. Itu jika ada kesempatan.

Kisah Jokowi “KW” bermula ketika Timan merantau di Biak Utara, Papua. Pada 2014 lalu. Saat coblosan pilpres Timan menggunakan hak pilihnya. “Saat di tempat pemungutan suara banyak anak kecil memanggil saya Jokowi. Lho kok saya dibilang Jokowi,” kenangnya saat berbincang dengan Radar Jogja Kamis (14/2).

Panggilan Jokowi berlanjut saat Timan merantau di Tangerang, Jawa Barat. Menurutnya, ada yang bilang jika Timan memakai baju kotak-kotak bakal sulit dibedakan. Mana Jokowi, mana Timan. “Kalau Pak Jokowi kan orang sukses. Saya ini orang desa. Terus terang saya malah grogi,” katanya.

”Kapan ya bisa ketemu dan berjabat tangan dengan Pak Jokowi. Kalau boleh saya mau memeluk beliau. Semoga kesampaian,” tambahnya seraya berharap.
Soal produksi angklung, ucap Timan, dikerjakan bersama istrinya, Purwati.

Dibantu anggota keluarga lainnya. Sejak 2016. Dia bahkan membentuk grup musik Tiasa Nada.

Berbekal ketelaten membuat dan memanikan angklung, keluarga Timan kini semakin terkenal sebagai pemain musik angklung.

“Membuat angklung sebetulnya mudah. Bahan bakunya juga banyak,” ungkap Timan.

Dia lantas menjelaskan proses membuat angklung. Pertama-tama bambu segar dikeringkan. Lalu dipotong-potong sesuai kebutuhan. Panjang-pendek bambu menghasilkan nada yang berbeda-beda. Inilah letak kesulitannya dalam pembuatan angklung. Mengatur batang-batang bambu agar menghasilkan suara yang selaras dan bernada.

Lantas bagaimana dengan kondisi alam Bukit Menoreh. Yang bersuhu rendah. Ini justru menjadi tantangannya. Nyatanya angklung buatan Timan tetap unggul. Suaranya bahkan lebih nyaring jika dimainkan di wilayah perkotaan. Yang suhunya lebih panas.

“Membuat angklung ini di udara yang dingin sulit. Saya cukup menjaga agar tidak dimakan brubuk dan lapuk,” ungkap Timan.

Untuk menjaga dari pelapukan, bambunya harus berkualitas. Hanya bambu berusia tua yang dipilih. Lalu direndam di dalam air. Selama beberapa bulan. Kemudian dijemur sebelum dipotong-potong.

Pengeringan bambu harus di bawah sinar matahari. Ini juga bisa menjadi kendala. Apalagi saat ini cuaca tak menentu. Bahkan kerap hujan. Proses menjadi lebih lama. “Bahan angklung itu bambu-bambunya harus benar-benar kering,” ucapnya.

Untuk menjaga kualitas angklung Timan punya jurus andalan. Dia akan menyimpan angklung di atas tungku dapur. Cara itu terbukti membuat bambu tak mudah lapuk. Nada suara yang dihasilkan pun tetap.

Soal kemiripan Timan dengan Jokowi membuat heran para tetangga. Salah satunya Erwan Hardiansyah. Dia mengaku sempat kaget saat pertama kali bertemu dan berjabat tangan dengan Timan. ”Kok seperti Pak Jokowi. Dilihat dari samping, kerutan wajahnya, bahkan logatnya mirip. Potongan rambut juga persis Jokowi,” ungkapnya.

Kemiripan wajah Timan dengan Jokowi bahkan membuat sang istri sempat tak percaya. “Ya percaya nggak percaya itu suami saya. Ternyata memang mirip Pak Jokowi,” kataPurwati. “Kalau benar ada kesempatan bertemu beliau (Jokowi) saya bisa nangis,” sambungnya.

Setelah makin dikenal lewat media sosial, rumah Timan kerap kedatangan tamu tak diundang. Ada yang datang hanya sekadar memastikan kabar kemiripan Timan dengan Jokowi. Ada juga yang ingin memastikan apakah Timan memang andal membuat dan memainkan angklung. Tak sedikit pula tamu yang sengaja ingin berlajar membuat atau memainkan angklung.

Berkat Jokowi “KW” pula rezeki mengalir. Angklung buatan Timan banyak dipesan orang. Terutama lewat media sosial. Pemesannya pun tak hanya dari Jogjakarta. Banyak juga dari Solo dan Semarang.

Pembeli angklung dari luar Jogjakarta yang datang ke rumah Timan kemarin adalah Sutrisno. Dia tertarik dengan garapan Timan. Selain murah, kualitasnya bagus. Satu set hanya dibanderol Rp 2 juta. Saat itu pula Sutrisno mengamini. Ternyata di Bukit Menoreh Kulonprogo memang ada Jokowi “KW”. (yog/tif)