JOGJA – Bagi Komandan Kodim 0734/Jogja Letkol Inf Wiyata Sempana Aji, Kota Jogja seperti miniatur Indonesia. Bekal berbagai pengalamannya kala berdinas akan diterapkan di Kota Pendidikan.

DWI AGUS, Jogja

SANGAR. Itu kesan yang muncul dalam benak ketika kali pertama bertemu dengan Letkol Inf Wiyata Sempana Aji. Namun, di balik kesan ”angker” itu, pria yang kini menjabat Dandim 0734/Jogja ternyata sosok yang sangat ramah. Saat bertemu dengan orang yang belum dikenal pun dia tak segan untuk menyapa lebih dulu.

Seperti saat Radar Jogja berbincang-bincang dengan pria kelahiran Bandung itu beberapa waktu lalu.

”Masuk akademi militer (akmil) pada 1998. Lalu, lulus pada 2001,” tutur Dandim 0734/Jogja Letkol Inf Wiyata Sempana Aji menceritakan awal perjalanan karirnya.

Sebelum berdinas di Kota Gudeg, perjalanan karir Wiyata, sapaan akrabnya, memang cukup panjang. Meski telah lulus akmil, pada 2003, misalnya, dia masuk Kopassus Grup 1 Taktakan, Serang, Banten. Selama setahun.

”Baru kemudian pada 2004 ditugaskan di Aceh,” ucapnya.

Saat itu, Wiyata becerita Tanah Serambi Mekah tersebut masih bergejolak. Gerakan Aceh Merdeka yang dihadapi TNI. Selama berdinas dua tahun di ujung barat Indonesia itu, Wiyata kerap keluar masuk hutan memburu personel GAM. Saking seringnya, Wiyata yang saat itu masih berpangkat letnan dua tidak mengetahui bahwa bumi Aceh diterjang tsunami hebat. Maklum, saat itu peralatan komunikasi tak secanggih sekarang.

”Memang terasa ada gempa,” kenangnya.

Baginya, Aceh menjadi bagian sejarah perjalanan karirnya. Sebab, pada 2005 dia kembali ditugaskan di Aceh. Bedanya, kali ini dia bergabung dengan Badan Intelegen Strategis (BAIS).

Namun, panjangnya pendidikan, pengalaman di hutan, dan bertugas di BAIS justru membuat perwira menengah dengan dua melati di pundak itu sarat pengalaman. Berbagai pengalaman itu pula yang turut mengantarnya bergabung dengan Badan Nasional Penanganan Terorisme (BNPT) pada 2011 hingga 2013. Di lembaga ini, Wiyata dipercaya menjadi satgas pencegahan.

”Tugasnya mengantisipasi dan mereduksi paham yang menyimpang dari NKRI,” tuturnya.

Pengalaman tugasnya bertambah lagi saat ditugaskan di Papua. Mulai 2018 hingga 2019. Saat itu Wiyata menjabat satgas khusus penegakan hukum.

Saat bertugas di Bumi Cenderawasih, Wiiyata menyadari permasalahan sangat komplek. Penanganannya butuh campur tangan pemerintah pusat.

Nah, beragam pengalaman ini yang menjadi bekalnya ketika berdinas di Kota Jogja. Sebuah kota yang dia sebut sebagai miniatur Indonesia.

”Pengalaman berkomunikasi dengan tokoh masyarakat hingga tokoh agama menjadi bekal penting. Mempelajari seluk beluk Jogjakarta. Satu yang pasti kami harus selalu kepada sesama,” katanya. (zam/mg2)