SLEMAN – Sebagai daerah resapan air, Pemkab Sleman seharusnya bisa menjaga kelestarian sungai. Sebab, persentase bakteri e-coli di Sleman masih cukup tinggi. Yaitu sekitar 80 persen.

Karena hampir semua sungai berhulu di Sleman masyarakat harus merawat dan menjaga kelestarian sungai. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman mengajak masyarakat menjaga kelestarian sungai. Salah satu caranya dengan Program Kali Bersih (Prokasih).

Kabid Pegendalian dan Pencemaran Lingkungan DLH Sleman, Purwoko Sasmoyo menjelaskan, Prokasih merupakan program tahunan yang melibatkan masyarakat.

“Pemerintah tidak bisa kerja sendiri. Menyelesaikan persoalan sungai bersama masyarakat,” kata Purwoko (11/3).

Adanya Prokasih harus diimbangi kesadaran masyarakat. Kesadaran menjaga sungai penting. Untuk mewujudkan sungai bersih, sehat, dan lestari.

“Giat bersih sungai merupakan salah satu upaya mewujudkan kebersihan dan kelestarian sungai,” kata Purwoko.

Dia berharap masyarakat peduli sungai. Tidak hanya saat ada giat Prokasih. Setidaknya, setiap waktu giat bersih sungai bisa terus dilakukan.

“Karena Sleman ini hulu sungai di DIJ. Kalau tercemar, kasihan yang di bawah. Seperti Kota Jogja atau Bantul,” kata Purwoko.

Prokasih dilakukan di 17 titik sungai yang ada di Sleman. Pada 2019 ini, Kali Adem, Daleman, Girikerto, Turi, Sleman menjadi sungau yang pertama dibersihkan.

“Kegiatan ini melibatkan komunitas sungai. Mulai dari perencanaan, penjadwalan, hingga pengaturan pembuangan sampah,” ujar Ketua Forum Komunitas Sungai Sleman (FKSS) AG Irawan.

Langkah yang diambil pemerintah merupakan langkah positif. Sebab masyarakat diminta aktif. “Terutama yang tinggal di pinggir sungai. Untuk ikut merawat sungai,” kata Irawan.

Komunitas sungai, kata Irawan, memiliki peran penting mengajak warga aktif dalam giat bersih-bersih sungai. “Terlebih, kegiatan ini didukung pemerintah daerah. Sehingga kelestarian sungai dapat terwujud,” ungkapnya.

Prokasih menggunakan pola kerja bakti dan pungut sampah. Khususnya sampah plastik yang masih banyak bertebaran, bahkan menumpuk di sungai.

“Dengan turun langsung ke sungai, setiap warga akan kian akrab dengan sungainya. Mereka akan tahu kondisi sungai yang dekat rumah tinggalnya. Khususnya keberadaan sampah plastik dan pencemar lain,” kata Irawan.

Dia berharap kesadaran masyarakat akan tumbuh. Sehingga kelestarian biota sungai bisa terjaga. (har/iwa/er/mg2)