JOGJA – Kehadiran Mahfud MD di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta Minggu (10/3) malam memberikan nunsa lain konser Kua Etnika bertajuk Sesaji Nagari.

Mahfud hadir sebagai undangan. Dari si empunya acara, Djaduk Ferianto. Namun di tengah

pertunjukan mantan ketua Mahkamah Konstitusi itu diminta naik ke panggung. Untuk memimpin doa. Sekaligus berorasi. Sesuai kapasitasnya sebagai pakar hukum dan politik, Mahfud lagi-lagi menyinggung momentum Pemilu 2019.

Menurutnya, para peserta kontestasi banyak yang mengusung isu-isu sosial demi menggaet suara. Salah satunya isu kemiskinan.

“Ada yang mengatakan Indonesia merdeka, tapi orang miskin masih banyak. Orang yang mengatakan itu tidak bersyukur atas rahmat nikmat dari Tuhan,” sindirnya.

Mahfud lantas menarik ke belakang. Pasca kemerdekaan. Saat itu, menurut dia,  angka kemiskinan di Indonesia mencapai 90 persen. Saat ini sisa 8 persen. “Ini yang menjadi tugas bagi kita semua untuk bersatu,” tuturnya.

Dikatakan, Indonesia sedang menghadapi cobaan berat. Memasuki masa Pemilu 2019 muncul potensi perpecahan. Dilatarbelakangi perbedaan pilihan. Hingga hilang tali persaudaraan.

Kondisi ini diperparah dengan pertikaian agama dan aliran kepercayaan. Yang berbeda pendapat digolongkan sebagai kelompok terluar. Padahal makna pemilu adalah pesta demokrasi yang mengedepankan norma sosial. “Mudah-mudahan ini segera berakhir dan bersatu kembali setelah pemilu,” harapnya.

Sesaji Nagari sendiri menjadi sentilan bagi perhelatan Pemilu 2019. Sindiran halus dimunculkan dalam lirik maupun percakapan. Mengkritisi kondisi perpolitikan Indonesia saat ini.

Celotehan itu muncul saat Djaduk berkomunikasi dengan Alit Jabang Bayi dan Gundhi. Kedua orang ini memerankan sosok pengunjung. Mereka membahas maraknya informasi hoax dan kampanye hitam.

“Mengalir saja, percakapan selama pertunjukan. Disesuaikan dengan lagu yang akan dibawakan. Seperti lagu dari Lombok berjudul Kadal Nongak,” kata Djaduk. Lagu itu menceritakan sosok yang sombong dan gemar menyebar informasi hoax.

Selama pertunjukan Djaduk kerap berbicara di hadapan pengunjung. Seolah mau mengajak berinteraksi.

Khususnya saat dia melontarkan isu-isu sensitif. Namun, begitu isu terlontar dia cepat-cepat meralat. Bahwa panggungnya bukan acara politik.

Mangga saja penonton menginterpretasikan karya ini. Semangat Kua Etnika adalah menghadirkan keragaman Indonesia melalui kekayaan ragam bunyi di nusantara,” ujarnya.

Dalam konser kali ini Kua Etnika membawakan 10 lagu. Setiap lagu kental degan irama alat musik tradisional. Lagu yang dibawakan dari berbagai daerah. Selain Lombok, ada pula lagu asal Sulawesi Tengah, Jambi, Papua, Bengkulu, dan Batak.

“Setiap daerah memiliki alat musik khas dengan bentuk dan bunyi-bunyian yang unik. Inilah yang membedakan daerah satu dengan lainnya. Inilah wujud keindahan nusantara,” tuturnya. (dwi/yog/mg2)