JOGJA – Luas Kota Jogja memang hanya 32,5 kilometer persegi. Sudah padat dengan bangunan. Tapi bukan berarti warganya tidak bisa bercocok tanam. Diantaranya dengan konsep pertanian perkotaan.

“Sawah yang ada di kota Jogja tinggal sekitar 53 hektare, maka kami dorong masyarakat untuk mengunakan konsep pertanian perkotaan dengan pemanfaatan space yang ada,” ujar Plt Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Jogja Sugeng Darmanto di sela gelar potensi pertanian Kota Jogja 2019 di halaman Balai Kota Jogja Senin(11/3).

Dengan konsep pertanian perkotaan, jelas Sugeng, masyarakat bisa bercocok tanam menggunakan pot ataupun tong. Seperti yang diterapkan di beberapa kampong sayur. “Ada juga yang memelihara ikan dengan menggunakan kolam yang dibangun menggunakan batako dan terpal,” katanya.

Sedang Ketua Tim Penggerak PKK Kota Jogja Tri Kirana Muslidatun mengatakan pertanian bukan produk instan. Masyarakat, khususnya kaum hawa, diharapkannya bisa menjadikan kebiasaan agar gemar menanam dulu. Lalu gemar merawat tanaman.

“Setelah gemar hasilnya barulah bisa kita tahu hasilnya bisa dikonsumsi,. setelah itu bisa dijual tidak,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu isteri Wali Kota Jogja Haryadi Suyuti itu juga meminta ibu-ibu menyiapkan menu beragam berimbang bergizi dan aman. “Semua bahan zat yang dibutuhkan tubuh harus ada. Aspek ketahanan pangan. Ketika pangan terpenuhi bisa dijual,” ujarnya.

Dia juga mendorong ibu-ibu di Kota Jogja melakukan diversifikasi pangan. Diantaranya dengan mencari bahan pengganti nasi. “Bahan pangan nonberas, seperti jagung, kentang atau ubi kan juga mudah ditemui,” ungkapnya. (cr8/pra/mg3)