Waktu itu tiba. Setelah sampai di kediamannya. Kami diajak masuk ke ruang tamu. Sambil menunggu satu  tim yang belum datang. Kami ngobrol. Kami membincangkan berbagai hal. Ringan. Tetapi menyentuh nurani.

Berbincang dengan Wan Mohd Nor Wan Daud, kami menjadi tahu. Ternyata beliau memiliki sahabat tokoh nasional dari Indonesia. Dia menyebutkan nama-nama besar seperti Amin Rais, Sjafi’i Maarif, dan Nurcholis Majid. Dirinya karib dengan sosok yang populer dalam panggung kecendekiaan dan akademisi ini, karena sama-sama menimba ilmu di universitas Chicago. Dia juga menyebut nama Kuntowijoyo sebagai kawan. Dalam buku biografinya terpampang foto-foto mereka. Ini sebagai penanda. Bila Wan Mohd  Nor Wan Daud memiliki kedekatan secara pribadi dengan tokoh-tokoh tersebut.

Di sela-sela diskusi. Saya pribadi tertarik pada hal lain. Ada sesuatu yang menggoda. Di sana-sini. Di setiaptempat. Di pojok ruang tamu. Sisi meja di ruangtamu. Selalu ada buku. Tertumpuk rapi. Dan buku yang terpampang. Bukan hanya buku-buku ringan sebagai hiburan. Tetapi buku-buku berat yang membutuhkan pemikiran serius,  bila ingin memahaminya.

Setelah bincang-bincang lumayan lama. Satu tim yang kami tunggu datang. Istirahat sebentar. Lalu kami diajak ke ruang berbeda. Rupanya ada ruangan khusus yang disediakan oleh Wan Mohd  Nor Wan Daud untuk menerima tamu-tamunya.

Sampai di ruangan. Wow. Saya begitu terpesona. Menghirup bau ruangan menggugah selera belajar memuncak. Ingin sekali menikmati hidangan khasanah ilmu pengetahuan yang tersaji. Ingin rasanya melahap semua menu berbagai kategori literasi yang terpampang di rak. Jelas itu tak mungkin. Karena jumlahnya terlalu banyak.

Kami berada di ruang perpustakaan pribadi. Koleksi bukunya ribuan. Diantara buku-buku yang berjajar rapi merupakan karya masterpice penulis dunia. Kekayaan referensi yang tak ternilai.

Di ruangan itu. Wan Mohd  Nor Wan Daud dengan semangat menunjukkan buku-buku yang berkelas. Di ruangan itu. Dia menceritakan menghabiskan waktu untuk membaca. Di ruangan itu. Dia mengungkapkan banyak mengalokasikan waktu untuk menulis.  Aktifitas tersebut menjadi penanda, sebagian besar waktunya dimanfaatkan menekuni literasi.

Dari totalitas menekuni literasi Wan Mohd  Nor Wan Daud melahirkan karya-karya yang berkualitas. Lebih dari 16 buku telah ditulisnya. Buku-buku karyanya sudah diterjemahkan dalam berbagai ragam bahasa. Yaitu bahasa mandarin, Arab, Indonesia, Jepang, Parsi, Rusia, Bosnia, Macedonia, dan Malayalam.

Melihat idealisasi yang dilakukan Wan Mohd  Nor Wan Daud memiliki passion pada literasi menjadi seperti melihat cermin terbelah. Kesungguhannya membaca dan menulis berbanding terbalik dengan realitas  kekinian. Dunia literasi mulai meranggas. Tak banyak lagi orang menjadi kutu buku. Tak banyak lagi meluang waktu menuliskan gagasannya.

Kalau mau bercermin. Peradaban di negeri ini terkait literasi belum mapansepenuhnya. Belum ada kebiasaan yang baik dalam membaca karya tulis. Apalagi menulis. Masih jauh dari harapan. Lebih banyak pada tradisi lisan.

Peradaban yang masih belum memihak pada literasi itu terlanjur berlangsung transformasi yang relatif cepat terkait dengan teknologi informasi. Buah karya dari teknologi informasi paling menonjol yang mempengaruhi kehidupan adalah smart phone.

Dampak dari smart phone mempengaruhi perilakuseseorang. Dari bangun tidur sampai mau tidur tak terlepas dari smart phone. Celakanya. Penggunaan smart phone lebih dimanfaatkan untuk kegiatan yang tak produktif. Orang-orang menjadi terperdaya oleh yang namanya smart phone.

Makanya kalau tidak kontrol diri waktu habis bermain dengan smart phone. Kalau sudah seperti ini, merasa tidak punya banyak waktu untuk membaca buku atau karya tulis yang lain.

Apa jadinya bila dinamika pergulatan pemikiran melalui dunia literasi terpinggirkan. Peradaban  tak lagi beranjak. Dan perjalanan bangsa ini menjadi kehilangan arah. Karena tak ada lagi konsep yang menjadi pijakan. Semoga tak akan terjadi.

Penulis adalah dosen Fakultas Psikologi UAD