BANTUL – Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PW NU) DIJ menggelar rapat pleno dan sosialiasi pemilu damai, Sabtu(9/3). Itu untuk mendukung penuh penyelenggaraan pesta demokrasi lima tahunan. Agenda yang digelar di Omah PMII itu juga disampaikan hasil Munas-Konbes NU 2019 di Banjar, Jawa Barat.

”Saya memandang pemilu itu tidak hanya tugas aparat keamanan seperti Polri. Tapi dari semua pihak, mulai dari penyelenggaranya, seperti KPU, Bawaslu, hingga masyarakat, tokoh agama, ormas, dan lain-lain,” jelas Kapolda DIJ Irjen Pol Ahmad Dofiri saat menjadi narasumber sosialisasi pemilu damai.

Dofiri menegaskan, tujuan utama sosialisasi pemilu damai adalah menyerukan kepada khalayak ramai untuk bersama-sama menjaga pemilu damai, aman, dan sejuk. Target itu tidak bisa hanya bekerja sepihak. Sebab, pemilu merupakan gawean bersama.

“Saya harap dengan sosialisasi yang sudah kami lakukan ini tidak terjadi lagi hal-hal yang tidak diinginkan menjelang pemilu,” tuturnya.

Wakil Ketua PW NU DIJ Fahmi Akbar Idris menegaskan, PW NU mendukung penuh penyelenggaraan pemilu yang aman dan damai. Komitmen itu ditandai dengan deklarasi pemilu damai oleh pengurus PW NU DIJ.

Ada beberapa poin dalam deklarasi itu. Di antaranya, PW NU menyerukan agar nahdliyyin-sebutan warga NU-ikut mencoblos. PW NU juga meminta nahdliyyin ikut aktif menangkal ujaran kebencian.

”Kami juga mendukung KPU sebagai penyelenggara pemilu yang sah, sesuai amanat undang-undang untuk menyelenggarakan kegiatan dengan baik,” lanjutnya.

Fahmi juga berpesan agar masyarakat tidak melakukan upaya mendelegitimasi proses pemilu. Lantaran pemilu kali sangat krusial.

”Kalau kita bisa meloloskan diri dari situasi yang luar biasa ini, maka jargon bahwa Indonesia adalah negara muslim terbesar yang demokratis itu akan kita buktikan kepada masyarakat internasional,” ungkapnya.

Fahmi juga mengimbau agar warga NU tidak mengotori pemilu dengan politik uang, penyebaran hoaks, dan fitnah yang berpotensi memecah ukhuwwah wathoniyah (persaudaraan antarwarga negara). (ita/zam/mg2)