SLEMAN – Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencatat pada Februari 2019 produksi sampah se-DIJ mencapai 2.100 ton per hari. Khusus Sleman, produksi sampah per hari 800 ton.

Kepala Unit Pelayanan Teknis (UPT) Pelayanan Persampahan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman, Sri Restuti Nurhidayah mengatakan, dari 800 ton sampah tersebut baru separo (52 persen) tertangani. Mulai dari pengurangan dan pengelolaan sampah.

Sisanya adalah sampah-sampah liar yang masih berserakan di jalan maupun selokan. Dari 52 persen itu, 32 persen dibuang ke tempat pengelolaan sampah akhir (TPSA) Piyungan. Sampah yang dibuang ke Piyungan merupakan residu yang tidak bisa dikelola dinas.

Sri menjelaskan, selama ini sampah di Sleman didominasi sampah rumah tangga. Baik kemasan plastik, makanan, atau popok bayi. “Sebab, satu orang itu menghasilkan rata-rata 0,65-0,7 kilogram sampah per orang per hari,” kata Sri (10/3).

Menurut dia, kesulitan menangani sampah lebih disebabkan kesadaran masyarakat mengelola sampah. Masyarakat lebih bersikap praktis. “Asal ada tumpukan sampah, ikut membuang sampah. Dikira itu adalah tempat pembuangan sampah,” ujarnya.

Untuk menanganinya, pihaknya berkoordinasi dengan pemerintah setempat. Agar bisa menindak para pembuang sampah sembarangan. “Kami tidak bisa kerja sendiri. Padukuhan harus ikut andil,” pintanya.

Pihaknya juga telah menyiagakan 34 truk pengangkut sampah. Namun, untuk masyarakat yang ingin sampahnya diangkut, harus melakukan permohonan dulu.

“Karena, untuk truk sampah ini, sifatnya permohonan. Biasanya mereka yang tinggal di kawasan perkotaan. Kalau di desa, biasanya sudah dikelola sendiri,” ujarnya.

Kepala DLH Sleman, Dwi Anta Sudibya menjelaskan, pihaknya menyediakan 247 bank sampah tersebar di seluruh Sleman. Dia mendorong agar terus terbentuk TPS-3R (Reduce, Reuse, Recycle). “Sudah ada 21 TPS-3R,” jelasnya.

Dwi Anta meminta masyarakat aktif menekan jumlah sampah. Bahkan, jika sampah bisa dikelola, menjadi pemasukan yang lumayan.

“Bisa dijadikan kerajinan yang bernilai ekonomis. Yang tidak bisa diolah, serahkan ke kami. Kami kirim ke Piyungan,” kata Dwi Anta.

Kualitas hidup masyarakat bisa terlihat dari cara mengelola sampah. Terutama dalam hal kesehatan. “Kebersihan lingkungan itu 70-80 persen memengaruhi kesehatan,” tandasnya. (har/iwa/er/mg2)