GROPYOKAN tikus bukan lagi sebatas cara tradisional menekan populasi tikus. Namun cara itu bukan satu-satunya. Pengendalian hama tikus harus dilakukan secara sistematis. Dengan program pengendalian hama tikus terpadu (PHTT).

Peneliti pada Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jogjakarta Arlyna Budi Pustika mengungkapkan, PHTT terdiri atas lima komponen utama. Gropyokan tikus, salah satunya. Hanya, sejauh ini PHTT belum berjalan optimal. Itulah mengapa tikus terus menjadi musuh utama petani.

Selain gropyokan tikus, ada gerakan tanam serentak. Langkah selanjutnya adalah pemasangan TBS di sekitar petak sawah. Pengemposan pada lubang tikus aktif juga harus terus dilakukan. Untuk menekan populasi tikus. “Pemanfaatan musuh alami tikus seperti tyto alba juga diperlukan,” jelasnya.

Arlyna membenarkan, gropyokan menjadi langkah paling mudah dilakukan. Namun cara itu hanya bisa menekan populasi tikus di masa awal tanam. Sehingga, sangat mungkin tak semua tikus mati atau tertangkap. “Filosofi gropyokan adalah menekan populasi (tikus, Red) seawal mungkin. Saat persiapan tanam,” ungkapnya.

Berdasarkan penelitiannya, sepasang tikus sawah di awal masa tanam mampu menghasilkan anak sebanyak 80 ekor saat musim panen. Arlyna mengilustrasikan, jika ada 100 ekor tikus betina saja di awal tanam, dan tidak dikendalikan, saat panen populasinya bisa menjadi 8 ribu ekor. “Makanya kami selalu mendorong petani untuk memasang TBS,” tutur Arlyna.

Diakui, pembuatan TBS memang butuh biaya an waktu. Kendati demikian, Arlyna menegaskan, biaya yang dikeluarkan akan sebanding dengan hasil yang diperoleh.

Efektivitas sistem kerja TBS juga harus mengorbankan satu petak sawah yang ditanami padi lebih dulu. Sekitar tiga minggu sebelum masa tanam serengak. Nah, pada petak sawah tersebut dipasangi bubu.
“Harapannya tikus habis di situ,” kata dia.

Tanpa PHTT secara optimal, niscaya tikus bisa diberantas. Hasil panen pun jadi pertaruhan. Gagal panen menjadi ancaman petani setiap tahunnya. Karena itu, Arlyna mengimbau petani getol menerapkan sistem PHTT. Selain kawasan barat Sleman, seperti Moyudan, Minggir, Seyegan, dan Gamping, kata Arlyna, wilayah Sedayu, Bantul juga endemik tikus. “Kulonprogo juga ada di sisi timur, tapi tidak banyak,” ucapnya.

Terpisah, dosen Fakultas Pertanian, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Ihsan Nurkomar mengatakan, wereng, tikus, walang sangit, dan lembing atau kepinding tanah merupakan hama yang biasa menyerang padi. Setiap hama menyerang tanaman dengan cara dan waktu yang berbeda-beda. Sesuai perkembangan tanaman padi.

Tikus menyerang tanaman padi sejak masih berupa bibit. Hingga memasuki masa pengisian bulir. Populasi tikus berkembang pesat dan cepat. Sementara populasi predator alami tikus, seperti ular dan burung hantu, kian menurun. (har/cr7/yog/tif)