SLEMAN – Persoalan sampah di Sleman masih pelik. Setelah sebelumnya pemerintah menunda pembangunan tempat pengelolaan sampah akhir (TPSA) Madurejo untuk meredam konflik, kini muncul masalah lain. Yaitu semakin banyaknya tumpukan sampah di pinggir jalan.

Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman mengategorikan hal itu dengan menyebutnya tumpukan sampah liar. “Di Sleman, dari data di kami, ada 15 titik (tumpukan sampah liar),” ungkap Kepala DLH Sleman, Dwi Anta Sudibya di sela perayaan Hari Peduli Sampah Nasional di Berbah (8/3).

Pria yang baru menjabat di DLH Sleman sekitar dua bulan tersebut mengatakan, lokasi tumpukan sampah liar yang dia temukan, mayoritas di kawasan perkotaan. Yakni Kecamatan Depok, Mlati, dan Gamping. “Semoga semakin berkurang, jangan justru bertambah,” harapnya.

Dwi Anta menjelaskan, pihaknya telah berulang kali membersihkan tumpukan sampah liar itu. Namun kesadaran masyarakat akan kebersihan lingkungan masih rendah.

“Kalau sudah bersih, lalu ada yang buang sampah lagi di situ. Dan pasti nular, dan akhirnya buang lagi di situ. Nah ini yang sebenarnya menjadi fokus kami,” kata Dwi Anta.

Dia melihat perilaku masyarakatlah yang harus diubah. Sehingga pihaknya telah menyiapkan skema. Pertama, dengan memberikan gerobak sampah untuk masyarakat.

Kedua, jika masyarakat menghendaki, maka pihaknya akan membangunkan bank sampah. “Nah dari bank sampah ini sampah akan dipilah menjadi dua. Satu yang bisa dijual atau diolah, satu lagi residu yang dibuang ke TPAS Piyungan,” jelas Dwi Anta.

Kalau masyarakat keberatan, kata dia, maka yang paling mungkin adalah dengan TPS-3R (Reduce, Reuse, Recycle). Pengelolaan sampah model ini merupakan pengelolaan sampah berbasis masyarakat. “Saat ini kami telah memiliki 21 TPS-3R,” kata dia.

Koordinator Komunitas Garuk Sampah, Bekti Maulana mengatakan, di kawasan Selokan Mataram banyak tumpukan sampah. Menurutnya perlu dilakukan upaya pengangkatan sampah di sepanjang Selokan Mataram. Seakan menjadi tempat pembuangan sampah umum.

Bekti menjelaskan, tumpukan sampah liar di Sleman tidak mungkin hanya 15 titik. Di sepanjang Selokan Mataram saja ada puluhan titik. “Mungkin jumlahnya bisa mencapai ratusan,” kata dia.

Bekti menceritakan, dulu pernah melakukan kerja bakti untuk membersihkan sampah di Kalasan. Lokasinya di sekitar Selokan Mataram.

“Tapi, sehari setelah dibersihkan, muncul lagi sampahnya. Dari cerita masyarakat, orangnya itu-itu saja,” ujar Bekti.

Untuk menyadarkan masyarakat merawat lingkungan masih sulit. Bahkan segala macam cara seperti imbauan dan sanksi berupa denda seakan tidak mempan.

Contoh nyata, di Dusun Sombomerten. Kendati sudah dipagar bambu dan dipasang peringatan berupa peraturan, lengkap dengan denda, masih banyak sampah yang dibuang di sana. “Biasanya buang sampahnya malam, biar tidak ada yang tahu,” kata Bekti. (har/iwa/by/mg2)