Cita-citanya saat kecil ingin jadi ahli forensik. Tapi jalan nasib pengagum WS Rendra ini berkata lain. Kini Ahmad Hayya Auliasidik Brawinta lebih menekuni dunia seni budaya. Terbaik putra baca puisi Peksiminas XIV – 2018 adalah prestasi terbarunya.

JAUH HARI WAWAN S, Sleman

Sudah sejak lama Jogjakarta terkenal sebagai gudangnya para seniman. Gaungnya menggema di Nusantara. Tak heran banyak pemuda membanjiri Jogjakarta setiap tahun. Sebagian besar pelajar dan mahasiswa. Selain menimba ilmu di bangku sekolah atau kuliah, tak sedikit yang ngangsu kawruh seni budaya Jogjakarta. Langsung kepada ahlinya. Ahmad Hayya Auliasidik Brawinta, salah satunya.

Pemuda asal Garut, Jawa Barat, itu  datang ke DIJ membawa misi serius. Bagi dirinya. Dia berniat belajar sastra. Di salah satu kampus di DIJ. Meski misinya itu jauh dari cita-citanya sejak kecil. Menjadi ahli forensik. “Seperti Detektif Conan (serial komik fiksi Jepang, Red),” ujarnya sambil terkekeh.

Sedikit basa-basi dengan Radar Jogja, sosok kelahiran 1 Januari 1999 itu lantas lebih blak-blakan. Hayya, sapaannya, mengaku tidak ingin menjadi sastrawan. Padahal, prestasinya di bidang sastra dan seni tak lagi perlu dipertanyakan. Sejak SMA dia rutin menyabet penghargaan. Dalam setiap kompetisi sastra. Terbaru dia menjadi yang terbaik dalam ajang Pekan Seni Mahasiswa Nasional (Peksiminas) XIV-2018 di Jogjakarta. Kategori baca puisi putra. “Jadi sastrawan itu berat,” ujarnya.

Darah seni mengalir di tubuh Hayya dari orang tuanya. Ayahnya dulu mengambil disiplin ilmu tari saat kuliah. Kini menekuni dunia teater. Kendati demikian, Hayya tak mau membandingkan diri dengan ayahnya. Hayya punya jalan dan caranya sendiri. Untuk menjalani garis hidupnya.

Termasuk ketika memutuskan terjun di dunia pertunjukkan. Saat itu dia masih duduk di bangku SMA. “Awalnya hanya ingin mencari teman dan belajar ngomong. Soalnya dulu dideketin cewek saja merinding,” ujar pemuda pemalu ini.

Bakat Hayya dalam dunia sastra kian terasah setelah tinggal di Jogjakarta. Dia aktif dalam setiap agenda teater dan sastra. Hingga datang hari itu. Gelaran Peksiminas XIV. Dia didapuk menjadi duta Jogjakarta. “Ikut seleksi dua (kategori, Red). Monolog dan baca puisi. Yang lolos malah baca puisi,” tutur pemuda berkaca mata itu.

Bagi Hayya, mendalami dunia pertunjukan berarti belajar berkomunikasi. Baik antarpemain maupun pemain dengan penonton. Serta menyampaikan pesan kepada penonton. Inilah tantangannya. Setiap kali tampil di atas panggung. Menyampaikan pesan yang terkandung dalam sebuah puisi tidaklah mudah. “Paling sulit bagian itu,” ungkapnya.

Mentalnya pun sempat ciut. Ketika membacakan puisi karya Agus R. Sarjono. Berjudul “Syair Pindah Rumah”. Juga puisi “Perempuan-Perempuan Perkasa” karya Hartoyo Andangjaya.

Ada perasaan cemas saat itu. Saat kontes di Peksiminas. Dia khawatir tak mampu menyampaikan pesan yang termaktub dalam puisi itu kepada penonton. Apalagi dia melihat ada seseorang yang pernah mengalahkannya. Dari kontingen Jawa Barat. “Saya nggak menyangka. Sebelum baca mental sudah ciut. Pas baca hanya fokus dan niatnya menyampaikan pesan puisi,”kenangnya.

Ada ritual khusus sebelum dia naik panggung. Merenung. Sekitar satu menit. Namun tempat merenungnya tak boleh sembarangan. Harus di pojok kanan panggung. Entah apa maksud perenungan dan tempat merenungnya itu. Yang jelas ritual itu mampu menghapus perasaan groginya. “Dan sebelum naik panggung dalam hati bilang aing juara (saya juara),” ujarnya.

Beragam prestasi memang pernah diraihnya. Hayya tak akan berhenti berkarya. Untuk meraih kejuaraan-kejuaraan lain. Di dunia seni dan sastra. Namun sekali lagi dia menegaskan tak akan menjadi sastrawan. “Mungkin jadi seniman  atau budayawan saja,” tegasnya. (yog/mg4)