JOGJA – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Jogja telah mencoret nama Juan Carlos Sanavas dalam daftar pemilih tetap (DPT) Pemilu 2019. Itu menyusul hasil investigasi Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) Kota Jogja dan Bawaslu DIJ. Penyelenggara pemilu itu memastikan pria yang tinggal di Mergangsan, Kota Jogja, tersebut berpaspor Spanyol. Alias warga negara asing (WNA).

”Hingga saat ini baru satu nama WNA yang dicoret,” jelas Ketua KPU Kota Jogja Hidayat Widodo, Kamis(7/3).

Ya, KPU bakal terus melakukan penyisiran. Caranya dengan menelisik data pemilih yang bernama asing plus lahir di luar Indonesia. Itu untuk memastikan agar tidak ada WNA yang masuk dalam DPT. Sebab, ada dugaan beberapa WNA tercatat sebagai pemilih dalam Pemilu 2019.

”Dari komunikasi dengan Bawaslu Kota Kamis(7/3), memang sempat ada dugaan. Tapi setelah dicek ternyata WNI asli,” ujarnya.

Hingga kemarin, Hidayat belum mengetahui penyebab masuknya WNA dalam DPT. Mengingat, DPT Pemilu 2019 mengacu data Pilwali 2017. Artinya, data tersebut telah valid dan terverifikasi. Di sisi lain, data terbaru DPT hanya berasal dari wajib rekam e-KTP 17 tahun.

Sementara itu, Bawaslu DIJ meralat data hasil investigasinya. Joan Marie Scanlan yang semula dinyatakan WNI (warga negara Indonesia) ternyata adalah WNA. Itu setelah Bawaslu mengecek dokumen kartu keluarga. Dalam dokumen itu, perempuan yang tinggal di Purwosari, Gunungkidul, tersebut diketahui berpaspor Amerika Serikat.

Koordinator Divisi Pengawasan Hubungan Antarlembaga Bawaslu DIJ Amir Nasirudin tak menampik dengan revisi data ini. Menurutnya, proses verifikasi awal terhadap Joan hanya melalui wawancara. Hasil wawancara itu diperkuat dengan keterangan keluarga dan Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Gunungkidul.

Bagi Amir, kesalahan ini menjadi pelajaran penting bagi Bawaslu. Artinya, proses verifikasi tidak cukup hanya dengan wawancara. Melainkan juga harus memeriksa dokumen kependudukan.

Kendati begitu, Amir tetap meminta keluarga tak perlu menutup-nutupi status kewarganegaraan anggota keluarganya.

”Instansi terkait juga harus mengecek berdasarkan dokumen yang valid,” sarannya.

Dengan temuan ini, data pemilih dalam DPT yang tidak memenuhi syarat (TMS) berubah. Menurutnya, data ini akan dikirim ke KPU. Hanya, proses pengiriman menunggu proses verifikasi faktual berakhir. Toh, hingga sekarang, Bawaslu masih mengecek dugaan 32 WNA yang masuk dalam DPT di wilayah Sleman. Berdasar data sementara, delapan di antaranya tercatat sebagai WNI.

”Jadi, total WNA yang masuk DPT ada 11 orang. Nanti kami ajukan ke KPU untuk dicoret,” katanya.

Amir juga menyinggung sejumlah fakta lain saat investigasi. Menurutnya, mayoritas WNA di DIJ telah memiliki e-KTP. Namun kolom kewarganegaraan tertulis negara asalnya.

”Kolom profesinya tertulis others. Rata-rata usianya sudah cukup tua,” tambahnya.

Pada bagian lain, Bawaslu Gunungkidul juga tak kalah sibuk. Mereka intens mengecek satu per satu pemilih dalam DPT yang diduga sebagai WNA. Komisioner Divisi Pengawas, Humas dan Antarlembaga, Bawaslu Gunungkidul Rosita menyebut ada tiga data pemilih yang ditelusuri. Hasilnya, dua di antaranya telah berstatus sebagai WNI.

”Yang satu masih berstatus sebagai warga Amerika Serikat. Namanya Joan Marie Scanlan,” katanya. (dwi/gun/zam/mg2)