JOGJA – Publik DIJ akhirnya bisa melihat berbagai naskah babad dan serat bersejarah. Salah satu kekayaan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat yang dibawa pasukan Inggris di bawah Gubernur Jenderal Sir Thomas Stamford Raflles saat peristiwa Geger Sepehi 207 tahun lalu itu tadi malam mulai dipamerkan.

Pameran naskah kuno bertajuk Merangkai Jejak Peradaban Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat untuk memperingati 30 Tahun Tinggalan Jumeneng Dalem itu digelar di Kagungan Dalem Bangsal Pagelaran Keraton selama satu bulan. Persisnya mulai 7 Maret hingga 7 April.

Namun, berbagai naskah kuno warisan HB II yang dikembalikan lagi kepada keraton itu tak berbentuk manuskrip asli. Melainkan dalam bentuk digital.

Menurut GKR Bendara, kembalinya 75 manuskrip tersebut, antara lain, berguna untuk merakit kembali sejarah. Lantaran koleksi naskah kuno keraton hanya peninggalan mulai HB V.

”Sedangkan (peninggalan) HB I sampai IV nggak ada,” jelas putri bungsu HB X ini sebelum pembukaan pameran, Kamis(7/3) malam.

Dari itu, istri KPH Yudhonegoro ini berharap manuskrip digital bisa diakses oleh publik. Baik dari Indonesia maupun luar negeri.

Selain naskah digital yang diserahkan British Library, berbagai naskah fisik kuno koleksi warisan HB V juga ikut dipamerkan. Antara lain babad, serat, dan cathetan warni-warni dari perpustakaan keraton KHP Widyabudaya. Juga teks-teks bedhaya, srimpi, pethilan beksan, serta cathetan gendhing dari koleksi KHP Kridhamardawa.

Berbagai koleksi dari Bebadan Museum Keraton Jogja ikut dipamerkan guna mendukung visualisasi naskah.

Pameran yang buka mulai pukul 09.00 hingga pukul 21.00 ini terbuka untuk umum. Selain pameran, ada pula kelas kuratorial dan tur ruang pamer. Pemandunya akademisi dan komunitas. Kelas yang dibuka setiap akhir pekan ini bertujuan untuk menyuburkan atmosfer akademis di Jogjakarta.

Lebih jauh dikatakan, ketertarikan masyarakat terhadap budaya dan sejarah semakin tinggi. Itu perlu diapresiasi. Lewat ruang diskusi, diharapkan masyarakat semakin sadar merawat identitas yang diwariskan oleh para para leluhur.

Pameran dibuka dengan pertunjukan Beksan Lawung Ageng. Karya seni tari ini diciptakan HB I. (cr9/zam/mg2)