SLEMAN – Pertandingan Piala Presiden grup D di Maguwoharjo malam ini kemungkinan besar tidak akan sepi penonton lagi. Hal itu setelah salah satu kelompok suporter PSS, yaitu Brigata Curva Sud sepakat mengakhiri aksi boikot mereka.

Keputusan itu didapat setelah BCS melakukan pertemuan dengan PT Putra Sleman Sembada (PSS) yang menaungi klub, Kamis (7/3) di pendopo rumah dinas Bupati Sleman. Tuan rumah, Bupati Sri Purnomo ikut hadir di awal pertemuan.

Hasil dari pertemuan tersebut, BCS menerima komitmen dan langkah-langkah perbaikan dari manajemen PT PSS. Kesepakatan itu ditandai dengan penantanganan nota kesepahaman oleh Soekeno (mewakili PT PSS) dan Jaguar Tominangi (mewakili BCS). Penandatanganan disaksikan oleh manajer PSS, Retno Sukmawati.

Sebelumnya, BCS menyatakan boikot dan menuntut PT PSS melakukan perbaikan manajemen klub menuju profesional. Menyusul naiknya PSS ke kasta tertinggi, Liga 1. Salah satu tuntutan BCS adalah pelaksanaan Elite Pro Academy (pembinaan usia muda) yang disanggupi oleh PT PSS. Program itu juga merupakan persyaratan utama bagi klub peserta Liga 1 2019. Total ada 8 tuntutan.

“PT membutuhkan akselerasi, kesabaran dan perjuangan. Kami bertekad tidak menjadikan tim sebagai pecundang. Kita tidak mau PSS Sleman hanya mampir ngombe tok di Liga 1,” ujar Soekeno.

Sementara BCS mengapresiasi hal positif dari PT PSS dengan memberikan respon dari aksi yang dilakukan BCS. Mereka menilai, PT tidak tutup mata dengan masukan dari suporter.

BCS menyadari ada yang tidak bisa dilaksanakan dalam sekejap, seperti pengadaan mess dan lapangan. Namun komitmen dan progres yang sudah ditunjukkan PT perlu apresiasi.

“Tuntutan yang ada bukan untuk kepentingan BCS, tapi demi kepentingan PSS berprestasi,” kata Janggo, sapaan Jaguar Tominangi.
Dalam pertemuan tersebut, dari direksi lainnya yang hadir diantaranya Djaka Waluja (direktur keuangan), Hempri Suyatna (direktur litbang), serta Ery Febryanto yang kini menjabat asisten manager. (riz)