SLEMAN – Salak memiliki prospek cerah di Sleman. Produk pertanian tersebut dipakai untuk motif batik khas Sleman. Bahkan salak sudah diekspor ke beberapa negara.

Kepala Bidang Holtikultura dan Perkebunan, Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman, Edi Sri Hartanto menjelaskan, potensi ekspor terbesar di Sleman baru salak. Jumlahnya mencapai ratusan ton per tahun. “Tahun lalu (2018) ekspor salak Sleman mencapai 600 ton,” kata Edi, Selasa (5/3).

Untuk saat ini, kata Edi, ekspor salak telah menembus pasar Tiongkok, Kamboja dan Vietnam. Pihaknya tengah melakukan penjajakan untuk menambah pasar mancanegara lain. Salah satunya Australia.

Intensitas ekspor salak tergolong cukup baik. Seminggu bisa sampai dua kali ekspor. “Untuk produksinya, kami kira sudah mencukupi pasar,” ujar Edi.

Di Sleman, terutama di Turi, Pakem, dan Tempel banyak terdapat petani salak. Namun yang bisa mengekspor dan kebunnya teregister baru 144 hektare.

Salah satu syarat ekspor salak, kebun harus teregister sehingga bisa dilacak asalnya. ‘’Tahun ini kami menargetkan bisa mengekspor salak hingga 1.000 ton,’’ kata Edi.

Pasar Singapura sebenarnya juga telah dirambah. Namun bentuknya berupa keripik salak. Dan jumlahnya belum terlalu besar.

Pasar salak terbesar ke Tiongkok. Yakni sekitar 400 ton. ‘’Produksi salak sudah cukup memadai. Tapi jumlah salak yang diekspor tergantung dari eksportirnya,’’ ujar Edi. (har/iwa/mg2)