SLEMAN – Angin kencang kembali melanda wilayah Kabupaten Sleman Selasa (5/3). Kali ini angin menyapu wilayah timur Bumi Sembada. Tepatnya di Dusun Totogan, Madurejo, Prambanan. Angin berembus kencang sekitar pukul 16.00. Meski hanya berlangsung tak lebih 10 menit, kekuatan angin menumbangkan puluhan pohon dan menerbangkan genting rumah-rumah warga. “Angin kencang disusul gerimis. Langit mendung tebal,” ungkap Kades Madurejo Sukarja kepada Radar Jogja.

Kejadian itu membuat sedikitnya 300 warga Totogan panik. Kendati demikian tak ada warga yang mengungsi. Mereka hanya keluar rumah untuk mencari tempat aman. Kabid Kedaruratan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Makwan menyatakan, wilayahnya memang rawan bencana. Terutama saat musim hujan. “Sleman rawan bencana hidrometeorologi. Termasuk angin kencang atau puting beliung,” katanya.

Data BPBD menunjukkan, selama Februari ini wilayah Sleman dilanda berbagai macam bencana. Paling merata di hampir seluruh wilayah adalah angin kencang. Terjadi di 264 lokasi, tanah longsor (5), sambaran petir (5), dan banjir (15). Total ada 141 jiwa terdampak bencana tersebut. Tiga kepala keluarga di antaranya mengungsi. Seorang meninggal dunia. “Infrastruktur juga banyak yang rusak. Selama Februari persentase bencana terbesar di Kecamatan Turi,” jelas Makwan.

Terpisah, Plt Kepala Stasiun Klimatologi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Jogjakarta Etik Setyaningrum menjelaskan hujan masih akan menghiasi langit DIJ beberapa hari ke depan. Baik dalam intensitas sedang atau lebat. “Terutama saat siang atau sore, serta malam. Kondisi pagi hingga siang umumnya cerah berawan,” jelasnya.

Kondisi tersebut karena adanya dukungan terbentuknya awan-awan penyebab hujan. Seperti konvergensi atau pertemuan angin di selatan Jawa akibat tekanan rendah di sisi barat daya Jawa. Dampak pertemuan angin tersebut berupa kenaikan massa udara. Maka terbentuklah awan-awan hujan.

Khususnya Cumulonimbus (CB). “Hal ini juga didukung dengan menghangatnya suhu permukaan laut di perairan selatan Jawa,” tutur Etik.
Adapun intensitas hujan per hari mencapai 30-50 mm. Dengan kategori sedang hingga lebat. Kecepatan angin bisa mencapai lebih 20 knot atu 36 km/jam. “Nah di awan CB ini lah kecepatan angin bisa sangat tinggi,” urainya.

Hujan lebat disertai petir dan angin kencang lebih berpotensi terjadi di wilayah utara dan tengah DIJ. Melihat gejala alam itu Etik memprakirakan, musim hujan 2019 akah berakhir pada April mendatang. Awal Mei, menurutnya, sudah memasuki musim kemarau.(har/yog/mg4)