SLEMAN – Sebagai tim promosi Liga 1, PSS Sleman mendapatkan pelajaran berharga dari tim bertabur bintang Madura United, di laga Grup D Piala Presiden di Stadion Maguwoharjo Selasa (5/3). Tim pelatih tim berjuluk Super Elang Jawa itu akan mengevaluasi tim demi memantapkan persiapan berlaga di kompetisi Liga 1 mendatang.

Ya, bermain di kandang sendiri anak-anak Sleman harus mengakui keunggulan Sape Kerrap- julukan Madura United 0-2. Dua gol tim asuhan Dejan Antonic itu dilesakkan Alberto Gonzalves (10′) dan pemain pengganti Alfath Faathir (86′).
Pada laga kemarin, PSS Sleman kehilangan suporter fanatiknya. Khususnya yang biasa beraksi di tribun sisi selatan, karena tengah melakukan aksi boikot. Ketidakhadiran mayoritas suporter Brigata Curva Sud (BCS) tersebut diakui atau tidak mengganggu motivasi para pemain.

Kapten tim PSS Bagus Nirwanto mengatakan kehilangan sebagian suporter di tribun stadion cukup mempengaruhi motivasi bermain. “Sedikitnya pasti berpengaruh. Tapi ada maupun tidak adanya suporter seharusnya kami tetap main dengan greget,” kata Bagus.

Bagus pun mengakui banyak pelajaran berharga yang didapat dari laga melawan tim yang sedang dijuluki Los Galacticos-nya Indonesia tesebut. Menurutnya, Madura United secara umum bermain bagus. “Kami sulit mengantisipasi. Tapi poinnya adalah ini sebagai persiapan tim untuk kompetisi ke depan,” katanya.
Minim nama besar, bukan berarti PSS Sleman tampil tanpa perlawan. Setelah 25 menit babak pertama, skuad asuhan Seto Nurdiyantara pun sempat mengendalikan permainan.

Gol cepat dari Beto menit 10, melecutkan motivasi pemain PSS untuk bisa membalas. Namun rapatnya barisan belakang tim tamu yang digalang Jaimerson Xavier, membuat Kushedya Hari Yudo yang mendapat tugas sebagai juru gedor kesulitan membongkar lini pertahanan lawan.

Masuknya pemain anyar, Brian Ferreira di tengah babak pertama membawa angin segar bagi permainan PSS Sleman. Sejumlah peluang emas dimiliki Super Elang Jawa. Salah satunya Yudo yang sudah berhadap-hadapan dengan penjaga gawang Madura United, M Ridho gagal mengonversi menjadi gol.

Babak kedua, kedua tim pun saling jual beli serangan. Berkali-kali pergerakan Greg Nwokolo mengancam pertahan PSS. Masuknya Andik Vermansyah menggantkan Beto pun berkali-kali membuat lini pertahanan PSS di kawal Alfonso de la Cruz dkk kerepotan. Terus dibombardir pertahanan PSS Sleman pun akhirnya jebol juga melalui pemain pengganti Alfath di empat menit terakhir.

Sedangkan PSS Sleman memiliki peluang emas di injury time. Sepakan Alfonso yang sudah berdiri bebas tanpa pengawalan masih melenceng tipis di kanan gawang M Ridho.

Pelatih PSS Sleman Seto Nurdiyantara mengakui anak asuhnya belum pada performa permainan terbaik. Perubahan program latihan dalam menghadapi kompetisi Piala Presiden cukup mengganggu kesiapan pemain. “Indokatornya bisa kita lihat pemain salah passing serta ada gap antara lini tengah dan belakang,” katanya.

Pelatih asal Kalasan ini pun mengakui dua pemain asing yang dimiliki pun belum tampil pada performa terbaik. Brian, dengan status eks Argentina U-17 terlihat kesulitan mengimbangi kecepatan skuad Sappe Kerap. “Brian skill oke, tapi fisik harus ditingkatkan. Termasuk juga Alfonso,” katanya.

Pelatih Madura United Dejan Antonic mengatakan timnya bermain baik selama 25 menit babak pertama. Timnya cukup beruntung bisa mengantisipasi reaksi skuad Super Elja yang mencoba membalas gol pertama. “Kami bermain dengan tim yang cukup baik, maka dari itu kami harua desain tim lebih bagus,” katanya.

Setelah kemenangan di laga perdana, Dejan mengaku telah fokus untuk laga selanjutnya melawan Persija Jakarta. Menghadapi juara bertahan Piala Presiden, rotasi pemain tetap akan dilakukan. Termasuk, mengantisipasi kehilangan lima pemain yang akan menjalani training camp bersama Timnas Indonesia di Australia. “Kami sudah siapkan pemain lain. Jadi tidak ada masalah karena pemain sudah siap,” katanya. (bhn/din/mg4)