JOGJA – Laporan dugaan penggunaan surat keterangan palsu yang diajukan KGPAA Paku Alam X diduga adanya kekhawatiran uang ganti rugi tanah bandara Kulonprogo senilai Rp 701 miliar akan jatuh ke tangan Suwarsi dan kawan-kawan (dkk).

Jika itu sampai terjadi, maka berpotensi merugikan eksistensi Kadipaten Pakualaman. Baik secara materiil maupun immateriil. Lantaran merasa khawatir, PA X kemudian membuat pengaduan ke Polda DIJ.

Suwarsi dkk berikut penasihat hukumnya, Prihananto SH, dituduh menggunakan sejumlah dokumen palsu saat menggugat PA X ke Pengadilan Negeri (PN) Wates maupun PN Jogja.

Dokumen itu meliputi akta kepemilikan tanah Pakualamanaat Grond (PAG), nazab atau silsilah asal usul ahli waris GKR Hemas atau Gusti Raden Ajeng (GRAj) Moersoedarinah dan legalisasi dari camat Temon, Kulonprogo. “Namun kekhawatiran PA X itu tidak terbukti.

Fakta di persidangan terungkap, uang Rp 701 miliar justru sudah dicairkah oleh PA X. Bahkan pencairan terjadi sebelum putusan PN Jogja dijatuhkan atas gugatan klien kami,” ungkap penasihat hukum Suwarsi dkk, Bambang Hadi Supriyanto SH Selasa (5/3).

Masalah pencairan dana ganti rugi tanah bandara Rp 701 miliar menjadi perdebatan sengit di ruang sidang PN Jogja yang berlangsung sehari sebelumnya. Jaksa penuntut umum (JPU) yang dikoordinasi Dandeni Herdiana SH dan tim penasihat hukum terdakwa terlibat adu argumentasi. Bahkan majelis hakim yang diketuai Asep Permana SH harus menengahi perdebatan itu.

PA X yang hadir sebagai saksi sejak awal tidak bersedia melayani pertanyaan tim penasihat hukum terdakwa. Khususnya menyangkut pencairan dana ganti rugi bandara itu. Sikap PA X itu didukung oleh Dandeni sebagai JPU.

Adipati yang naik takhta pada 7 Januari 2016 itu beralasan yang berkompeten menjawab adalah penghageng Danartapura (semacam menteri keuangan) Kadipaten Pakualaman. “Persidangan ini bukan ruang diplomasi. Tapi untuk mengungkap fakta,” ujar Bambang.

Tak tahan dengan sikap saksi, pengacara asal Surakarta itu kemudian membacakan surat dari PN Wates nomor W13-U3/1988/HK.00/IX/2018. Isinya uang ganti rugi tanah bandara yang dititipkan ke PN Wates berdasarkan penetapan penitipan ganti kerugian nomor 1/Pdt.P.K/2017/PN Wat telah dilakukan oleh termohon konsinyasi.“A aquo atas nama KGPAA Paku Alam X pada tanggal 5 Juni 2018,” ucap Bambang membacakan surat dari PN Wates itu.

Bukti surat itu kemudian diajukan ke depan majelis hakim untuk diperiksa. Tim penasihat hukum terdakwa, JPU, dan PA X sebagai saksi diminta maju ke depan meja hakim. Mereka dipersilakan mencermati bukti surat tersebut.

Hakim Asep kemudian menanyakan hal itu kembali ke PA X. Kali ini wakil gubernur DIJ itu bersedia menjawab. “Memang benar dana itu sudah kami cairkan,” ujar PA X. Pengakuan PA X telah mencairkan dana ganti rugi tanah bandara membuat riuh suasana sidang. Beberapa pengunjung spontan menyahut dengan tawa.

Mendengar itu, ketua majelis hakim langsung bereaksi. “Harap tenang,” ucap Asep dengan tatapan tajam ke arah pengunjung. Seketika ruang sidang kembali hening. Sidang kemudian dilanjutkan kembali.

Tim penasihat hukum terdakwa yang beranggotakan tujuh orang menilai, telah dicairkannya dana Rp 701 miliar membuat kekhawatiran terjadinya potensi kerugian terbantahkan. Sebab, dana tersebut tidak dalam penguasaan para terdakwa. Namun telah dikuasai PA X. “Meski belum ada kekuatan hukum tetap. Gugatan kami masih dalam tahap kasasi,” lanjut Bambang.

Untuk memperkuat pendapat ini, tim penasihat hukum Suwardi dkk meminta kepada majelis hakim agar menyita uang ganti rugi tersebut. “Disita untuk dijadikan barang bukti di persidangan ini,” tegas Bambang.

Pandangan itu langsung ditepis JPU. Jaksa Dandeni menegaskan, potensi kerugian tetap saja terjadi. “Bukan berarti hilang,” ujar jaksa yang sehari-hari menjabat koordinator di Kejati DIJ ini.

Di sisi lain, menyangkut silsilah asal-usul, PA X mengaku tak banyak mengetahui. Termasuk asal-usul Munier Tjakraningrat yang menjadi penggugat intervensi di PN Wates. Munier diketahui merupakan salah seorang putra GKR Pembayun yang menikah dengan Mr. RAA. M. Sis Tjakraningat dari Madura. GKR Pembayun berdasarkan versi Munier adalah putri Susuhunan Paku Buwono X. Ini didasarkan putusan penetapan Pengadilan Agama (PA) Sukoharjo pada 15 Oktober 2009.

Selain Munier, hasil pernikahan Pembayun dengan Tjakraningrat melahirkan tiga keturunan lainnya. Yakni Koes Siti Marlia, Koes Sistiyah Siti Mariana, dan Muhammad Malikul Adil Tjakraningrat.

Sedangkan versi Suwarsi yang merupakan putri dari GKR Pembayun alias Waluyo alias Sekar Kedhaton merupakan putri Paku Buwono X atau Malikoel Koesno dengan GKR Hemas atau Gusti Raden Ajeng (GRAj) Moersoedarinah, putri Sultan Hamengku Buwono VII.

Suwarsi sebagai anak Pembayun itu tertera dalam surat nazab nomor 127/D/III dari Raad Igama Surakarta atau Pengadilan Agama Surakarta 12 September 1943. Pembayun menikah dengan RM Wugu Harjo Sutirto dari Kadipaten Madura. Dari perkawinan itu melahirkan Gusti Raden Ayu Koessoewarsiyah alias Suwarsi.

Sebagai ahli waris Pembayun, Suwarsi memegang eigendom atau sertifikat hak milik No 674 verponding No 154 atas nama Moersoerdarinah di atas tanah seluas 1200 hektare di empat desa di Kecamatan Temon, Kulonprogo. Kini sebagian tanah itu digunakan untuk bandara Jogjakarta yang baru. Sertifikat hak milik itu diterbitkan oleh kantor Notaris Hendrik Radien di Jogjakarta pada 19 Mei 1916.

Masalah silsilah diakui salah seorang anggota majelis hakim P. Cokro Hendro Mukti SH sebagai hal yang tidak mudah. “Soal silsilah keluarga kerajaan memang rumit,” ungkap Cokro. Selama memeriksa PA X, majelis hakim yang terdiri atas Asep Permana SH, P. Cokro Hendro Mukti SH, dan A. Suryo Hendratmoko SH tidak banyak mengajukan pertanyaan.

Di sisi lain, jalannya sidang berlangsung maraton. Dari pukul 09.00 hingga pukul 21.00. Saksi yang diperiksa antara lain, Wakil Pengageng Kusumowandowo Keraton Surakarta KPH Brotoadiningrat, camat, dan staf Kecamatan Temon.

Brotoadiningrat di depan hakim menjelaskan, raja Paku Buwono X memiliki dua permaisuri. Yakni Kanjeng Ratu Paku Buwono dari Mangkunegaran dan Kanjeng Ratu Emas atau Hemas dari Kasultanan Jogja. “Raja juga punya beberapa orang priyantun dalem atau selir,” ungkap putra Gusti Raden Ayu (GRAy) Brotodiningrat, salah seorang putri Paku Buwono X.

Saat berada di ruang sidang Brotoadiningrat sempat merangkul PA X. Dia terlihat membisik sesuatu ke telinga PA X. “Dia itu cucu saya. Nenek buyutnya, GRAy Retno Puwoso, adalah saudara ibu saya,” katanya.

Retno Puwoso kemudian menjadi permaisuri PA VII. Dari perkawinan itu lahir PA VIII. Selanjutnya PA VIII melahirkan PA IX dan berlanjut ke PA X. “Saya ini memang masih cicit Paku Buwono X. Beliau kakek buyut saya,” tutur adipati yang lahir dengan nama BRMH Wijoseno Hario Bimo ini. (kus/yog/mg4)