BANTUL – Kondisi Monumen Soeharto di Dusun Segoroyoso, Desa Segoroyoso, Pleret memprihatinkan. Bangunan yang menjadi saksi sejarah Serangan Oemoem 1 Maret itu terbengkalai. Saking parahnya, kondisi bangunan bercat putih itu lebih mirip gudang dibanding monumen.

Menurut Kepala Dusun Segoroyoso 1 Slamet Raharjo, masyarakat sebenarnya telah berupaya memperbaiki bangunan bersejarah itu. Di antaranya dengan mengajukan proposal pemugaran ke Pemkab Bantul. Namun, proposal yang diajukan pada 2017 itu hingga sekarang belum menuai respons.
”Kami sempat mengajukan perbaikan secara swadaya. Tapi ditolak pemkab karena bangunan itu bersejarah,” tutur Slamet saat ditemui di Monumen Soeharto Selasa (5/3).

Pemugaran bertujuan, antara lain, agar monumen kembali menjadi jujukan. Ya, Monumen Soeharto pernah menjadi jujukan siswa maupun mahasiswa yang ingin belajar sejarah. Sebab, di tempat inilah Letkol Soeharto merancang strategi Serangan Oemoem 1 Maret. Namun, kondisi itu berbanding terbalik setelah gempa bumi 2006.

Dulu, kata Slamet, di dalam bangunan terdapat berbagai benda bersejarah peninggalan Letkol Soeharto. Seperti meja. ”Tapi, kemudian dipindah ke Museum Soeharto di Sedayu,” tuturnya.

Dari pantauan, sebagian pagar yang mengitari monumen sudah ambruk. Diganti dengan bambu. Kaca jendela juga banyak yang pecah. Begitu pula dengan genting dan eternit.

Kepala Seksi Sejarah dan Purbakala Dinas Kebudayaan Bantul Joko Purnomo irit berkomentar. Sebab, perawatan dan perbaikan Monumen Soeharto menjadi kewenangan Dinas Sosial DIJ. (cr5/zam/mg4)