Peringatan hari jadi kali ini sangat berbeda. Penamaannya dari Pengetan Jumenengan RAA Cokronegoro I menjadi hari jadi. Parade budaya Hari Jadi Ke-188 Kabupaten Purworejo yang paling dinanti masyarakat.

BUDI AGUNG, Purworejo

Jalan sepanjang empat kilometer di dalam kota nyaris tak menyisakan ruang kosong. Warga berjubel-jubel di tiap sudut. Lepas siang Sabtu (2/3) lalu, kondisi di salah satu jalan protokol itu memang berbeda. Lebih ramai. Sebab, ribuan warga Purworejo tumplek-bleg turun ke jalan. Mereka ingin melihat dari dekat sekaligus mengabadikan kemeriahan Parade Budaya. Puncak Peringatan Hari Jadi Ke-188 Kabupaten Purworejo itu pun membuat mereka mengabaikan panas sengatan matahari.

Ya, warga Purworejo ini rupanya ingin mengobati kerinduan dengan salah satu empat kereta kencana yang ikut pawai. Yakni, kereta kencana yang membawa Wakil Bupati (wabup) Purworejo Yuli Hastuti. Sebab, kereta kencana yang didominasi warna merah selama setahun lebih hanya terparkir di kompleks pendapa rumah dinas bupati Purworejo. Persisnya di antara pendopo utama dan pringgitan rumah dinas bupati yang terletak di Jalan Setyabudi itu.

Selama itu pula tidak banyak yang bisa mendapatkan kesempatan untuk mengabadikan diri dengan kereta tersebut. Bukan karena penjagaannya yang ketat. Melainkan warga segan untuk memasuki kawasan tersebut.

Dalam pawai itu, Yuli membawa gulungan kertas. Gulungan kertas dari Bupati Purworejo Agus Bastian itu berisi sebuah pesan penting bagi warga. Yakni, pengumuman perubahan waktu peringatan hari jadi.

Berdasar Perda Nomor 1 Tahun 2019, tanggal 27 Februari ditetapkan sebagai Hari Jadi Kabupaten Purworejo. Sebelumnya, hari jadi jatuh pada 5 Oktober. Ini mengacu Perda Nomor 9 Tahun 1994.

”Konsep hari jadi kali ini memang berbeda. Kami ingin memberikan tontonan apik dengan latar belakang budaya,” jelas Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Purworejo Agung Pranoto.

Turut memeriahkan suasana, drum band Akmil Magelang. Performance drum band taruna yang berada di barisan depan ini membius masyarakat.
Di belakangnya, iring-iringan kereta kencana yang dinaiki anggota forum komunikasi daerah. Jajaran kepala organisasi perangkat daerah juga menggunakan kendaraan yang ramah lingkungan berupa delman atau dokar.

Seluruh kendaraan tradisional dihias begitu rupa, sehingga menarik perhatian.
Yang tak kalah menyedot perhatian, iring-iringan 16 camat. Dengan mengenakan pakaian Jawa dan menunggang kuda, tiap camat memimpin bregada.

Menurut Agung, pakaian peserta parade budaya mengombinasikan dua unsur khas. Yaitu, Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta. Pertimbangannya, Purworejo mendapat sentuhan dua budaya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo Agung Wibowo berkomitmen mempertahankan kemasan parade budaya. Namun, ada beberapa pernak-pernik baru yang akan disisipkan. Di antaranya, parade cingpoling.
”Saat ini cingpoling hanya berkembang di Purworejo,” ungkapnya. (zam/mg4)