RESTORASI Jokteng Gondomanan tak bisa dilepaskan dari sejarah keberadaannya. Hilangnya pojok beteng  yang terletak di antara Jalan Brigjen Katamso dan Jalan Ibu Ruswo itu bukan tanpa alasan.

Pemerhati sejarah Keraton Jogjakarta KRT Jatiningrat mengisahkan, dahulu pojok beteng sisi timur laut itu disebut Tanjung Anom. Merupakan gudang mesiu milik Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) II. Oleh pasukan Inggris yang kala itu menduduki Jogjakarta, keberadaan Tanjung Anom dinilai sebagai sebuah ancaman. Maka pada 20 Juni 1812 tentara Inggris menghancurkan gudang mesiu itu. Serangan dipimpin Mayor Jenderal RR Gillespie. Saat penyerbuan itu Gillespie masih berpangkat kolonel.

“Pemikiran pasukan Inggris saat itu yang harus dihancurkan pertama kali ya gudang mesiu. Supaya tidak ada cadangan lagi,” jelas sosok yang akrab disapa Romo Tirun, Minggu (3/3).

Penyerangan tentara Inggris itulah yang menyebabkan pojok beteng timur laut Keraton Jogjakarta hancur. Romo Tirun lantas mengisahkan motif di balik penyerangan tersebut. Itu berawal ketika raja saat itu, Sri Sultan Hamengku Buwono II belum mau mengangkat putranya (kelak menjadi HB III) sebagai penerus takhta. Sebab dirasa belum mampu. Alasan kedua, HB II tidak mau mengakui telah membunuh Patih Danurejo II, yang saat itu punya perjanjian kontrak dengan Belanda.

Kekalahan Belanda atas Inggris yang tertuang dalam Perjanjian Tuntang (1811) mau tak mau turut membawa Inggris mencampuri urusan peninggalan Belanda di Jogjakarta. Penolakan HB II atas kasus pembunuhan Patih Danurejo II membuat Inggris geram. Maka terjadilah aksi penyerangan ke keraton pada 1812.

Adapun beteng keraton dibangun sejak masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwono I. Pembangunan keraton dan Taman Sari jauh lebih dulu daripada beteng. Pembangunan beteng dikebut di masa pemerintahan HB II. Bahkan HB II menyiapkan 10 meriam di setiap sudut beteng. Untuk mengantisipasi serangan tentara Belanda (sebelum digantikan Inggris). “Jadi dulu total ada 40 meriam,” jelas Romo kepada Radar Jogja saat ditemui di Bangsal Sri Manganti, kompleks Keraton Jogjakarta.

Akibat serangan tersebut, pojok beteng timur laut menganga. Hingga akhirnya menjadi permukiman penduduk. Romo Tirun sendiri tak tahu pasti ihwal munculnya permukiman pendudukan di area bekas beteng tersebut. Menurutnya, keraton memang merekomendasikan tempat itu untuk ditempati penduduk. Karena itu pula Romo Tirun meyakini, Keraton Jogjakarta akan memikirkan ganti rugi. Sebagai konsekuensi proyek restorasi jokteng. “Nggak usah khawatir,” pintanya.

Makna pembangunan kembali Jokteng Gondomanan agar masyarakat semakin tahu. Tentang sejarah beteng keraton. Khususnya Tanjung Anom. Dibangunnya kembali Jokteng Gondomanan diyakini mampu menggambarkan situasi dan kondisi keraton zaman dulu.

Romo Tirun mengatakan, model bastion (pojok beteng) sisi timur laut yang kelak direstorasi, akan sama dengan sisi barat laut. Sedangkan model bastion sisi tenggara sama dengan sisi barat daya.  (cr9/yog/tif)