TENAGA kerja yang siap diserap dunia kerja tidak cukup hanya terampil. Namun juga harus kompetitif. Karena itulah, tenaga kerja khususnya yang berasal dari Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) harus terus meningkatkat kualitas dan produktivitas.

TUJUANNYA tentu agar dapat diterima di pasar kerja nasional maupun internasional,” ungkap Anggota Komisi D DPRD DIY Tustiyani Jumat (1/3).

Berangkat dari latar belakang itu, Tustiyani menilai keberadaan Balai Latihan Kerja dan Pengembangan Produktivitas (BLKPP) Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DIY memegang peran yang strategis. Khususnya dalam menciptakan tenaga-tenaga kerja yang terampil sekaligus kompetitif.

Upaya yang dilakukan, terang Tustiyani, melalui pelatihan berbagai jenis keterampilan dan keahlian. Langkah berikutnya dengan meningkatkan relevansi dan efesiensi program pelatihan sesuai kebutuhan yang dinamis dan produktif. Melakukan tugas pengembangan produktivitas, pengukuran produktivitas, penyuluhan produktivitas dan pelatihan manajemen produktivitas.

Harapannya dengan langkah-langkah itu dapat memberikan keterampilan dan keahlian bagi peserta pelatihan. Dengan begitu, usai pelatihan, peserta dapat mengisi lowongan kerja sesuai pasar kerja. “Juga menciptakan lapangan kerja secara mandiri dan produktif,” harap ketua DPRD Bantul periode 2009-2014 ini.

Sebagai anggota dewan, Tustiyani mengampresiasi berbagai program pelatihan yang diselenggarakan BLKPP Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DIY. Pelatihan terbagi di berbagai jenis yang meliputi pelatihan institusional, pelatihan noninstitusional dan pelatihan berbasis kompetensi.

Kemudian on the job training (pemagangan), pelatihan usaha mandiri, pengukuran produktivitas, pelatihan dan penyuluhan produktivitas, pelatihan motivasi, pelatihan kewirausahaan dan pelatihan supervisi.

Berikutnya quality control cirlce (gugus kendali mutu), klinik produktivitas, penerapan five S (5S), integrated Productivity Improvement (IPI) dan integrated community development (ICD).

Dalam pengamatan Tustiyani, pelatihan yang diberikan BLKPP DIY merujuk pada pola standar latihan kerja dan sistem jam latihan (JL). Jumlah latihan kerja meliputi 25 persen teori dan 75 persen praktik.

Dengan tersedianya pelatihan kerja itu dapat mengatasi masalah pengangguran sekaligus meningkatkan kompetensi tenaga kerja di daerah. Dengan demikian, lulusan pelatihan BLKPP DIY memiliki pengetahuan, pengalaman dan keterampilan kerja untuk mengembangkan diri di dunia industri maupun wiraswasta secara mandiri. “Pelatihan kerja itu menjadi pilihan, harapan dan karir masa depan menjadi pekerja profesional dan pengusaha tangguh,” kata dia.

Lebih jauh dikatakan, fungsi pelatihan kerja juga mendukung calon tenaga kerja siap pakai yang berkualitas dan berkompeten. Mereka dapat bersaing dengan tenaga kerja yang lain. Juga dapat membuka usaha sendiri, mengurangi pengangguran dan memperluas lapangan pekerjaan.“Dengan fungsi itu, bisa menjawab persoalan pengangguran dan memersempit lebarnya kesenjangan sosial di kalangan masyarakat,” ingat anggota dewan dari Dapil Bantul Timur ini.

Di pihak lain, pelatihan kerja itu bermanfaat bagi banyak pihak. Antara lain pengusaha, peserta pelatihan, pemerintah, maupun masyarakat. Bagi pengusaha memperoleh tenaga kerja yang terampil dan berdedikasi terhadap pekerjaannya. Sedangkan peserta pelatihan dapat meningkatkan kualitas dan daya saing peserta. Adapun bagi pemerintah mengurangi angka pengangguran, membuka kesempatan kerja dan meningkatkan pendapatan daerah dari tenaga kerja yang bekerja di luar negeri. “Bagi masyarakat dapat membuka adanya peluang dan kesempatan kerja,” katanya.

Tustiyani berharap dengan banyaknya pilihan pelatihan kerja yang disediakan BLKPP DIY itu, masyarakat bisa memanfaatkan peluang itu. Kesempatan itu dapat digunakan oleh para calon pencari kerja guna mendapatkan pelatihan keterampilan. Ada beragam pelatihan. Antara lain teknologi mekanik, otomotif, elektronika, listrik, bangunan dan aneka kerajinan. Berikutnya bahasa asing, tata niaga, komputer dan perhotelan. (kus/mg4)