Tugasnya di Kesatuan Provost Polda DIJ, membuat Bripka Nur Ali Suwandi harus tegas dalam menegakan disiplin dan ketertiban di internal Polisi. Tapi di luar jam dinasnya, dia berubah menjadi orang tua asuh ratusan anak yatim. Seperti apa kisahnya?

MEITIKA CANDRA LANTIVA, Jogja

Kamis sore (27/2), Yayasan Rumah Singgah Bumi Damai yang berada di Gang Janoko Purbayan Kotagede riuh dengan celotehan anak-anak. Mereka duduk berjajar memadati bangunan yang hanya beratap tanpa dinding. Nah, disanalah menjadi tempat keceriaan anak-anak, sekaligus untuk belajar.

Bripka Nur Ali Suwandi tampak di tengah kerumunan anak-anak itu. Dia memberi motivasi kepada anak-anak. Seperti anak yang rajin belajar dan mendapat nilai baik akan diajak berlibur. ”Siapa yang mau jadi anak pintar?,” tanya Ali. Sontak semua anak mengacungkan jari. Dengan penuh semangat mereka menjawab ”Saya pak, saya,” ungkap anak-anak penuh keceriaan.

Pak Ali, sapaan dari anak-anak kepadnya. Dia tampak ramah. Anak-anak tanpa canggung dan takut mendekatinya. ”Mereka semua itu anak-anak saya. Saya mengasuhnya seperti anak sendiri,” ungkap pria kelahiran Jombang itu.

Saat ini paling tidak sudah ada 111 anak yatim yang berada diasuhnya. Selain kepada anak asuhnya, Pak Ali juga kerap memberikan bantuan kepada masyarakat miskin. Membagikan santunan dan juga mendirikan masjid di pelosok-pelosok. Hal itu dia lakukan karena niatan amanah.

”Saya senang melakukannya. Rasanya hati menjadi tenteram dan penuh kedamaian,” ungkap bapak dua anak itu.
Kesibukannya sebagai polisi, tak menjadi halangan dia menjalankan tugas mulia itu. Setiap hari dia membagi waktunya bekerja, mengisi waktu luang dengan keluarga dan anak-anak asuhnya.

”Bagi saya ini kegiatan merukunkan, mengumpulkan, menjadikan silaturahmi masyarakat,” kata pria yang lahir pada 17 Agustus 1978 itu.
Dia berharap anak-anaknya kelak dapat sukses mengejar cita-citanya. Dia juga berpesan agar mereka tak melupakan jiwa sosial. ”Kalau niatan kita baik, Tuhan pasti memberikan Jalan,” ungkap Ali.

Niatan tulusnya itu, jelas Ali, merupakan amanah dari salah seorang guru semasa bersekolah di Pondok Pesantren Bahrul Umul di Tambakberas Jombang. Yaitu Kiai Haji Jamaludin Ahmad.
”Saat ingin mendaftar polisi saya meminta restunya. Lalu saya diberi amanah oleh guru saya,” kenangnya.

Dia menjelaskan, guru itu memperbolehkan Ali mendaftar. Dengan syarat harus mencintai bangsa Indonesia. Kedua, menjadi polisi yang bermanfaat. ”Nah, setapak demi setapak itu saya wujudkkan,” tuturnya.

Bahkan kini, yayasan yang dia bentuk tahun 2008 sudah memiliki empat gedung. Bukan kacang yang lupa pada kulitnya, Ali menyebut berkat dukungan penuh dari keluarga dan teman-temannya. Termasuk dari bapak meertuanya yang memberikan rumah yang dijadikannya yayasan saat ini.

Dari mulai kebutuhan anak yatim sehari-hari, pendidikan, dan menjadi pelindung. Ali memulai niatannya itu. Yang dia yakin rejeki datang dari manapun. ”Itikad baik, pasti ada jalan,” ucapnya dengan pasti.

Happy Syafaat Shidiq, 22, salah seorang anak asuh Ali mengaku sosok Pak Ali menggantikan peranan sang ayah bagi anak-anak yayasan. Sebab, sebagian dari mereka tidak memiliki ayah atau ayah yang berada di rumah.

Menurut dia, Pak Ali memberikan contoh-contoh baik kepada siapapun. Bagaimana membantu orang lain, bagaimana memperlakukan orang lain. “Itu sangat menginspirasi. Dengan tindakan yang dilakukan Beliau, secara otomatis anak-anak disini mengikutinya,” ungkap Shidiq. (pra/mg2)