KULONPROGO – Pengedar uang palsu (upal) yang tertangkap di Pasar Jagalan, Desa Banjaroyo, Kecamatan Kalibawang ternyata residivis pada kasus yang sama. Polisi berupaya mengungkap jaringan serta kemungkinan distributor upal di atasnya.

“Sebelumnya, dia sudah tertangkap di Kudus dan menjalani hukuman 2,5 tahun. Bebas pada 2016. Tertangkap lagi di Kulonprogo ini, dengan kasus dan modus sama,” kata Kapolres Kulonprogo, AKBP Anggara Nasution di Mapolres Kulonprogo (27/2).

Tersangka Kusnin, 47, dan istrinya, Sri Miharti, 27, diduga bagian dari jaringan pengedar upal. Hal itu berangkat dari pengakuan tersangka yang mendapatkan uang dari Batang. Tersangka mengaku membeli 300 lembar pecahan upal Rp 100 ribu seharga Rp 2 juta.

“Kami masih mendalami kasus ini, coba mengungkap distributor besarnya,” ujar Anggara.

Saat ditangkap, tersangka membelanjakan upal pecahan Rp 100 ribu untuk membeli pisang. Penjual pisang (Abdul Kafid) yang juga dimintai keterangan sebagai saksi menyadari bahwa uang yang digunakan tersangka adalah upal.

Sadar dibayar dengan upal, Abdul langsung memberi tahu pedagang lain dan menangkap pelaku. Saat ditangkap, tersangka mencoba menghilangkan barang bukti, hingga polisi datang mengamankan situasi.

Dari tangan pelaku, diamankan barang bukti 267 lembar upal Rp 100 ribu. Dua lembar upal telah dibelanjakan di Pasar Jagalan, Banjaroyo. Sisanya dibelanjakan di sepanjang perjalanan dari Batang hingga Kulonprogo.

“Barang bukti lain Toyota Sienta, empat keranjang pindang dan satu sisir pisang. Uang pecahan Rp 50 ribu sebanyak 33 lembar ini asli, hasil kembalian. Tindakan tersangka merugikan pedagang,” kata Anggara.

Dia mengapresiasi masyarakat yang jeli dan mengamankan pelaku. Kasus ini menjadi pelajaran dan perhatian bagi masyarakat lainnya untuk mengantisipasi peredaran upal.

“Kualitas upal tidak bagus. Dilihat nomor serinya hampir sama semuanya. Hanya beberapa yang berbeda. Apabila masyarakat tidak awas, tidak dilihat, diraba dan diterawang, sepintas mirip uang asli,” kata Anggara.

Anggara menduga Sri Miharti tahu dan membantu suaminya mengedarkan upal. “Tersangka dikenai Pasal 36 ayat 3 jo Pasal 26 ayat 3 dengan ancaman hukuman 15 tahun UU RI tahun 2011 tentang Upal. Ancaman hukuman penjara 10 tahun,” kata Sri Miharti.

Kusnin nekad mengedarkan upal karena terlilit utang Rp 100 juta dan dikejar-kejar rentenir. Uang didapatkan dari orang di Pekalongan di Alun-Alun Batang. Dia memilih target orang tua yang awam upal.

“Istri saya tidak tahu. Tahunya saya ajak keluar meminjam mobil rental untuk ke Jogja,” kata Kusnin. (tom/iwa/mg2)