KULONPROGO – Pemkab Kulonprogo menyiapkan rencana penataan kawasan Pantai Glagah. Penataan segera dilakukan seiring beroperasinya New Yogyakarta International Airport (NYIA) di wilayah Temon. Pada April mendatang.

Konsep penataan pantai hampir pasti berdampak pada keberadaan tambak udang di selatan bandara baru itu.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kulonprogo Sudarna mengatakan, area tambak masuk rencana proyek penataan Pantai Glagah. Mau tak mau para petambak harus alih profesi. Menjadi nelayan atau bergabung dengan kelompok wisata merupakan pilihan alternatif. Sebab, tipis kemungkinan untuk relokasi tambak.

Berdasarkan rencana tata ruang wilayah (RTRW) pesisir selatan, kawasan budidaya air payau, termasuk udang, hanya di tiga pantai. Yakni Pasir Mendit, Kadilangu, dan Trisik. Menurut Sudarna, ketiga pantai tersebut bisa menjadi alternatif relokasi tambak udang Pantai Glagah. Namun luas lahan yang tersedia saat ini sudah tak mencukupi.

Relokasi ke pesisir Pantai Trisik ke barat juga tak memungkinkan. Karena kawasan itu wilayah pertambangan pasir besi, yang juga terganjal regulasi RTRW. Menurut Sudarna, masih ada celah untuk menambah luasan kawasan budidaya air payau. Tapi pengurusan izinnya lama.

“Itu berkaitan dengan RTRW yang menjadi kewenangan Pemprov DIJ,” jelasnya, Rabu (27/2).

Posisi petambak undang juga lemah secara hukum. Karena menyalani aturan peruntukan lahan. Tambak tersebut berada di sempadan pantai yang seharusnya steril dari segala bentuk bangunan.

Kendati demikian, Sudarna mengaku dilematis dengan rencana penggusuran lahan tambak udang tersebut. Meski melanggar regulasi, menurut dia, keberadaan tambak udang tak bisa dipungkiri sebagai sarana perekonomian masyarakat.

Sebelumnya, Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo menyatakan akan menggusur seluruh bangunan di kawasan Pantai Glagah. Baik hunian warga, hotel, warung, dan tambak udang. Yang semuanya tak berizin. Karena dibangun di kawasan yang tak sesuai peruntukannya. “April nanti akan dimulai,” katanya.

Sebagaimana diketahui, sempadan Pantai Glagah akan dibangun sabuk hijau yang berfungsi mencegah tsunami dan abrasi di kawasan NYIA.

Sementara itu, keberadaan tambak Pantai Glagah cukup menyita perhatian DPRD Kulonprogo. Bahkan dewan membentuk panitia khusus (pansus) untuk merumuskan masalah. Sekaligus mencarikan solusi bagi petambak terdampak penataan kawasan pantai.

Ketua DPRD Kulonprogo Akhid Nuryati meminta pemkab menunda rencana pengosongan lahan tambak udang. Alasannya, petambak terlanjur menebar benih udang. Kini usia benih sudah 40 hari. Mendekati masa panen. “Kasihan para petambak kalau sampai gagal panen,” katanya.

Akhid mewanti-wanti pemkab tak gegabah dalam melangkah. Sebelum menggusur tambak, Akhid minta pemkab menyiapkan lahan relokasi. Sambil menunggu kepastian konsep RTRW pantai selatan dari Pemprov DIJ. Agar para petambak yang notabene warga Kulonprogo tidak merugi. “Toh sejauh ini aktivitas tambak tak mengganggu bandara,” katanya.

Terpisah, Eko Susili, 37, petambak udang, menyatakan siap mengikuti keputusan pemerintah. Asal tak merugi. “Relokasi itu permintaan petambak. Karena kami tak dapat kompensasi apa-apa kalau digusur,” ungkapnya.
Eko mengaku menggeluti usaha tambak pasca lahan pertaniannya tergusur proyek NYIA. Jika tambak juga akan digusur, dia belum punya pandangan lain untuk alih profesi. (tom/yog/riz)