JOGJA – Limbah dari plastik, perca dan sabun mandi berhasil disulap oleh ibu-ibu di kelurahan Sosromenduran Gedongtengen Jogja menjadi olahan kerajinan. Sayangnya hasil karya mereka masih sebatas dipasarkan di sekitar kampung saja. “Masih seputaran kampung dan ke anak-anak sekolah saja,” ujar anggota Peningkatan Peranan Wanita Menuju Keluarga Sehat Sejahtera (P2WKSS) Sosromenduran, Stefani Yuni, di sela Festival Kuliner dan Kerajinan Kelurahan Sosromenduran Rabu (27/2).

Padahal, lanjut dia, para ibu-ibu di sana sudah bisa membuat kerajinan dari olahan limbah berupa bunga, dompet hingga tas. Termasuk produk olahan kuliner. Para wanita di Sosoromenduran juga mengerjakan disambi.
“Pengerjaannya anggota ibu-ibu sendiri-sendiri di rumah sambil mengurus rumah tangga,” katanya.

Yuni berharap hasil kerajinan dari pelaku usaha kecil mikro (UKM) di Kota Jogja bisa diperluas pemasarannya. “Harapannya bisa berkembang, termasuk untuk penjualannya,” harap dia. Terkait hal itu Kepala Dinas Pariwisata (Dinpar) Kota Jogja Maryustion Tonang mengatakan akan mengintegrasikan potensi kampung-kampung wisata ke objek wisata sekitar. Tak hanya potensi produk UKM kuliner dan kerajinan, tapi juga pertunjukan seni di kampung wisata.

“Kampung di Sosromenduran ini bisa dikolaborasikan dengan objek wisata sekitar seperti Malioboro dan dikemas menjadi paket wisata,” tuturnya.
Tapi untuk mewujudkannya, mantan Kepala Disperindagkoptan Kota Jogja itu mengaku butuh kerja sama dengan asosiasi  agen perjalanan dan hotel. “Untuk promosi potensi kampong pada wisatawan,” kata Tion.

Sementara itu Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi mengakui pemasaran produk UKM yang masih terbatas. Itu karena tak dapat akses pasar yang lebih luas. Menurut dia dari keluhan pelaku UKM di Sosromenduran kemarin menyebut ada beberapa pelaku yang sudah memanfaatkan jasa layanan pemasaran online. Tapi dia menilai masih terbatas perolehannya.

“Tujuan kita adalah wisatawan dan publik yang lebih luas. Kedatangan wisatawan tinggi dan jumlah mahasiswa tinggi. Ini yang kami dorong agar merek jadi pengungkit pendapatan warga,” jelas HP.  Solusinya, HP menjelaskan pemkot akan membantu marketing produk agar terakses lebih luas dan dikenal. Selain melalui kegiatan festival itu menjadi bagian untuk mengenalkan potensi produk kuliner dan kerajinan warga sekitar. Termasuk mendorong melalui kegiatan bazar UMKM tingkat kota selama seminggu yang diagendakan tiga hingga empat kali.

Selain itu mempersiapkan aplikasi dodolan untuk pemasaran produk UMKM Kota Jogja secara online dan memanfaatkan aplikasi lainnya. “Aplikasi dodolan saat ini masih uji coba di Jogja Smart Service. PR kita paling tindak harus bisa meningkatkan pendapatan mereka menjadi tiga kali lipat,” ungkapnya. (*/pra/mg4)