Dusun Susukan, Margokaton, Seyegan, Sleman pernah menjadi sentra penghasil batik. Itu dulu. Kini tak ada generasi penerus yang melestarikannya. Pasutri Muhammad Machrus dan Siti Musri’ah menjadi pembatik yang tersisa saat ini.

SEVTIA EKA N, Sleman

USIA Siti Musri’ah memang tak lagi muda. Tapi semangatnya tetap membara. Untuk nguri-uri warisan peninggalan leluhurnya. Membatik.

Dusun Susukan mencapai masa kejayaan dalam produksi batik sekitar 1980. Siti Musri’ah memang dari keluarga pembatik. Dia mengenal teknik membatik sejak duduk di bangku sekolah dasar. Setelah menikah dengan Muhammad Machrus, 61, Musri’ah tak serta merta meneruskan usaha batik rumahan yang menjadi warisan turun temurun di keluarganya.

Umumnya warga Susukan kala itu, Machrus dan Musri’ah lebih memilih bekerja swasta. Sesuai kehendak keluarganya. Dia kerja di pabrik pembuatan batik.
Musri’ah mengaku, dulunya tidak berniat, apalagi tertarik untuk mengembangkan usaha batik keluarga. Dia tak tahu alasannya kala itu.

Mungkin karena cukup ribet. Karena proses membatik di Susukan kala itu hanya sebatas mengoleskan malam (nyanting) pada selembar kain yang telah digambar motif tertentu. Untuk pewarnaan kain batik, warga Susukan mengandalkan pembatik di Kota Jogja.

Penghasilan dari membatik pun tak seberapa. Akibatnya, tak sedikit pembatik Susukan gulung tikar.

Kondisi itulah yang akhirnya memantik Musri’ah dan suaminya. Keduanya lantas memberanikan diri memproduksi batik sendiri. Tepatnya pada 2010. Hasilnya takak berjalan sesuai harapan.

Siti Musri’ah dan Muhammad Machrus. (SEVTIA EKA/RADAR JOGJA)

Selama enam bulan pertama, Musri’ah dan suaminya tak mendapatkan pembeli. Pesanan batik pun nihil. Promosi dari satu tempat ke tempat lain dilakoninya. Hasilnya pun tetap tak maksimal.

“Sampai akhirnya ada pelanggan juga. Meski hanya untuk proses mewarnai,” ungkap Machrus kepada Radar Jogja yang menyambangi kediamannya di Dusun Susukan III Selasa, (26/2).

Jasa mewarnai kain batik hanya sebentar. Machrus dan Musri’ah tak mau hanya sekadar menjual jasa pewarnaan batik. Keduanya sepakat fokus membuat batik. Mereka bertekad membesarkan brand Abirupa Batik. Keputusan itu ternyata tak meleset. Berawal dikerjakan sendiri, kini mereka memiliki lima karyawan.
Tugas karyawan masing-masing. Ada yang mengecap batik, membatik tulis, dan proses mewarnai.

Saat ini setiap hari Machrus mampu menghasilkan batik cap sebanyak 17 – 30 lembar per hari. Dan selembar batik tulis.

“Pembuatan batik tulis bisa berhari-hari. Tergantung kerumitan polanya,” jelas Machrus.

Batik tulis tak lagi banyak peminat. Makanya, produksinya pun tak banyak. Selain lebih sulit penggarapannya, harganya lebih mahal dibanding batik cap. Menurut Machrus, itu menjadi alasan utama batik tulis mulai ditinggalkan perajin.

Namun Machrus tetap konsisten memproduksi batik tulis. Sebagai sarana edukasi budaya bagi masyarakat. Sekaligus mempertahankan motif batik khas Susukan. Celeng kewengen, gedog, dan rujak sendeng.

Abirupa Batik dibanderol Rp 125 ribu – Rp 1,5 juta per lembar. Tergantung jenis dan tingkat kerumitan motifnya. Batik termahal diwarnai dengan bahan alam. “Kami pakai pohon indigo untuk menghasilkan warna biru. Warna ini tidak mudah pudar,” kata bapak tiga anak itu.

Meski hasil sudah lumayan, Machrus dan Musri’ah berkomitmen mengedukasi masyarakat dengan batik. Juga memberikan pelatihan gratis. Agar batik Susukan tak makin tenggelam digerus zaman. (yog/riz)