JOGJA – Pemprov DIJ mendorong pemerintah pusat menetapkan 1 Maret sebagai hari besar nasional. Mengingat peristiwa serangan umum 1 Maret di Jogjakarta menjadi salah satu catatah penting sejarah. Yang berdampak persatuan dan kesatuan bangsa.

“Surat permohonan sudah ada di meja presiden,” ujar Kabid Pemeliharaan dan Pengembangan Sejarah, Bahasa Sastra, dan Permuseuman, Dinas Kebudayaan DIJ Rully Andriadi, Rabu (27/2).

Sesuai usulan Gubernur DIJ Hamengku Buwono X, 1 Maret akan diperingati sebagai Hari Penegakan Kedaulatan Negara. Meski surat permohonan telah diajukan, lanjut Rully, Kementerian Sekretaris Negara meminta pemprov berkoordinasi dengan Kementrian Pertahanan. “Tindak lanjutnya masih menunggu,” ucapnya.

Lebih lanjut Rully menjelaskan, alasan di balik permohonan tersebut terkait implikasi serangan umum 1 Maret yang berdampak luar biasa secara nasional. Bahkan internasional. Yang berujung sikap Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) kala itu. Untuk melakukan perundingan terkait kedaulatan Republik Indonesia.

Adapun peringatan serangan umum 1 Maret tahun ini memasuki usia ke-70. Dinas Kebudayaan DIJ bersama berbagai elemen masyarakat menyiapkan serangkaian agenda peringatan. Melibatkan TNI, keraton, veteran, dan komunitas masyarakat. Agenda peringatan dihelat 27 Februari hingga 3 Maret.

Mengangkat tema “Dari Yogyakarta Republik Indonesia Berdaulat.” Peringatan itu diharapkan mampu meneladani semangat cinta tanah air dan perjuangan para pahlawan. Juga untuk mewujudkan aktualisasi diri para pecinta sejarah. Serta transfer pengalaman, pengetahuan, dan semangat kejuangan.

“Acara ini juga untuk mempertahankan predikat Jogjakarta sebagai Kota Perjuangan,” tegas Rully.

Ketua Paguyuban Wehrkreis III S. Sudjono mengatakan, agenda perdana peringatan serangan umum 1 Maret dimulai kemarin pagi. Dengan kegiatan kerja bakti bersih-bersih tetenger di Ngejaman, Keraton Jogjakarta. Tetenger tersebut merupakan tempat bertemunya Sultan Hamengku Buwono IX dengan Letkol Soeharto pada 1949.

Agenda lain malam tirakatan pada Kamis (28/2). Melibatkan pelajar, pelaku sejarah, TNI-Polri, dan masyarakat. “Ada pagelaran wayang kulit dan pemutaran film After 70 Years,” ujar Sudjono. Sedangkan pada 3 Maret akan diselenggarakan pameran alutsista di depan Museum Benteng Vredeburg dan defile (pawai) kebangsaan. (cr9/yog/riz)