SLEMAN – Wakil Bupati Sleman Sri Muslimatun berharap, Kepala Desa Condongcatur Reno Candra Sangaji dapat betul-betul menjadi pengayom masyarakat khususnya Condongcatur. Hal itu diungkapkan Sri Muslimatun saat acara peluncuran buku Reno Candra Sangaji S.IP, Pengayom Masyarakat Condongcatur, di Pendopo Condongcatur, Rabu (27/2).

“Acara bedah buku ini sangat bagus. Semoga masyarakat yang membaca buku ini dapat mengambil manfaatnya,” katanya kepada Radar Jogja.

Dia juga mengatakan, selain dengan membaca, diskusi buku sangat banyak manfaatnya. Diantaranya mengetahui pesan dan hal-hal yang mungkin tidak sempat disampaikan dalam isi buku. Selain itu, buku adalah sumber inspirasi untuk belajar kehidupan. Termasuk yang mengulas tentang tokoh masyarakat.

“Setiap orang punya kekurangan dan kelebihnan. Tapi dengan usaha keras pasti akan berhasil. Tidak ada yang sia-sia dari usaha keras. Dengan membaca dan menulis buku akan menjadi pengingat dan motivasi terus melayani masyarakat,” imbuhnya.

Penulis buku, Joko Indro Cahyono mengatakan, dalam menulis buku tersebut, dia melihat dari dekat bahwa Reno adalah sosok yang kreatif, berani mengambil risiko, sehingga dapat mencapai posisi saat ini. Meskipun demikian, selama memimpim Condongcatur, ritme kerja yang cepat terus dikerjakan. Kendati tetap diselingi dengan menjalankan hobinya bersepeda.

“Masih Banyak tangangan yang dihadapi. Buku ini sebagai catatan, evaluasi, dan apa yang Masih perlu dilakukan. Anak bangsa perlu mencari contoh untuk hal yang baik,” ungkapnya.

Kritikus buku H. Totok Daryanto yang juga anggota DPR RI itu juga mengungkapkan, bahwa Reno bisa menjadi contoh, bahwa bekerja harus sungguh dan serius tapi tetap senang. Menurutnya, bekerja yang dijalankan Reno dijadikan sebagai hobi. Sehingga seperti tidak jadi beban.

“Bekerja dengan hati. Dan dengan adanya buku ini, menjadikan budaya literasi perlu terus dikembangkan. Semua orang punya catatan dan contoh baik yang bisa ditulis,” tuturnya.

Dosen UGM Hempri Suyatna mengatakan, setelah membaca buku tersebut, Reno bisa mendorong inovasi di desa. Melihat potensi Condongcatur yang heterogen. Sebagai miniatur Jogjakarta dan Indonesia. Sebagai pemimpin masyarakat, senantiasa berpikir, melak

ukan sesuatu, banyak berinovasi agar pelayanan publik semakin maksimal.
Seperti optimalisasi lahan desa, dan bumdes. Hal tersebut bisa menjadi cagar budaya, cagar ekonomi dan penguatan infrastruktur ekonomi di masyarakat.

“Kepemimpinan yang transformational, ide, suport dan langsung terjun ke masyarakat. Juga tidak alergi dengan kritik dan merangkul semua masyarakat,” jelasnya.

Reno sendiri mengatakan bahwa dalam mengelola pemerintah desa tetap bisa dijalankan dengan mengombinasikan apa yang disukai masyarakat. Termasuk kegiatan guyub, seperti bersepeda yang bisa menggerakan partisipasi warga. Hal itu, dapat menjadi potensi wisata dan juga ekonomi.

“Dalam berorganisasi juga menjalin hubungan yang baik dengan semua kalangan, memperbanyak jaringan. Sehingga bisa menemukan banyak solusi dan inovasi untuk kemajuan desa. Dari buku ini, kami harap dapat diterima dan menjadi kontrol kepada kami. Kami harus lebih baik dari yang ada di buku tersebut. Harapan masyarakat, amanah akan kami wujudukan sebelum jabatan kami berakhir,” ungkapnya. (riz)