SLEMAN – Upaya Persis Solo menggunakan Stadion Maguwoharjo sebagai home base di musim ini dipastikan gagal. Sebab, Bupati Sleman Sri Purnomo menyatakan keberatannya bila Laskar Sambernyawa- julukan Persis Solo- bermarkas di Sleman.

Keberatan orang nomor satu di Sleman tersebut dilatar belakangi berbagai kejadian insiden suporter yang terjadi di Jogjakarta. Bahkan, Januari lalu, seorang suporter Sleman, Muhammad Asadulloh Alkhoiri meninggal setelah menyaksikan laga celebration game antara PSS Sleman melawan Persis Solo di Stadion Maguwoharjo. ”Kami berupaya meminimalisasi persitiwa serupa. Jadi saya harapkan Persis mencari alternatif di luar Sleman. Kan banyak,” kata Sri Purnomo kepada Radar Jogja Selasa (26/2).

Sri sendiri, turut hadir dalam audiensi dengan sejumlah pihak insan sepak bola terkait dengan rencana Persis Solo menggunakan Stadion Maguwoharjo untuk mengarungi kompetisi Liga 2 yang digelar di Mapolda DIJ kemarin. Dalam pertemuan tersebut, selain dari manajemen dan perwakilan suporter Persis, turut hadir pula manajemen PSS dan suporter PSS serta perwakilan pendukung dari PSIM Jogja. Termasuk intansi pemerintah yang selama ini bersinggungan dengan sepak bola.

Keberatan yang disampaikan oleh Politikus PAN ini pun didasarkan pada masukan dari masyarakat berkaitan dengan situasi keamanan dan ketertiban. Dari catatan, kericuhan kerap terjadi ketika Persis Solo melakukan laga di Jogjakarta. Yang cukup parah terjadi usai laga Persiba Bantul melawan Persis Solo pada gelaran Liga 2 2017. ”Berdasarkan masukan masyarakat kami menyatakan keberatan,” jelasnya

Karo Operasional Polda DIJ Kombes Pol Hermansyah akan menunggu keputusan resmi dari pimpinan daerah Sleman, Sri Purnomo. Sebab pemberi izin penggunaan Stadion Maguwoharjo, ada di tangan bupati Sleman. ”Kalau kami kan hanya memberi izin pertandingan. Jadi izinnya resminya dari bupati,” kata Hermansyah.

Menurutnya, keberatan yang disampaikan oleh bupati, tidak ada unsur tendensi kepada pihak manapun. Tetapi lebih pada pertimbangan keamanan dan kenyamanan masyarakat. Diakui oleh perwira menengah melati tiga itu, bahwa dalam perjalanannya, kelompok suporter Jogjakarta dan Solo memiliki catatan tersendiri. Dia pun menyinggung kericuhan yang tejadi setelah laga Persis melawan Persiba Bantul.

Ketika itu, bukan hanya korban jiwa, tetapi ada juga terdapat kerugian materil di mana ada pembakaran kendaraan. ”Memang tidak bisa dihidari ada sejarah pertikaian antar suporter,” terangnya. Terkiat pertemuan para suporter dari berbagai pihak untuk memuluskan langkah tersebut, Hermansyah pun memiliki keraguan tersendiri. ”Kadang mereka menyampaikan pesan damai dan sportif, tapi kenyataannya,” jelasnya.

Maka dari dari itu, dia pun akan mempertimbangkan keputusan manajemen Peris Solo untuk menggunakan Stadion Maguwoharjo sebagai home base. ”Bila nanti ada izin tentu kita akan perkuat pengamanannya. Tapi kami masih tunggu keputusan finalnya,” terangnya.

Manajer Persis Solo Langgeng Jatmiko siap mencari skenario lain seandainya Stadion Maguwoharjo tidak diperkenankan menjadi home base. Meski begitu, pihaknya masih akan menunggu keputusan resmi dari Pemkab Sleman.
Jajaran manajemen dan perwakilan suporter Persis akan mengagendakan rapat internal untuk mengambil langkah atas respons bupati Sleman tersebut. ”Sebenarnya tidak kaget, karena bermarkas di Sleman merupakan keinginan suporter. Nanti kami bicarakan langkah selanjutnya,” jelasnya. (bhn/din/mg4)