SLEMAN – Musibah angin kencang membuat barak pengungsian Donokerto, Turi, roboh Jumat sore (22/2). Konstruksi bangunan dan besi yang digunakan bangunan tersebut terlalu kecil. Kurang kuat. Sehingga rawan roboh.

Kepala Seksi Bangunan Gedung, Bidang Cipta Karya, Dinas Pekerjaan Umum Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPUPKP) Sleman, Sukarmin mengatakan, hampir seluruh bangunan barak pengungsian Donokerto memang rawan roboh. “Kalau melihat kondisi yang ada (setelah diterjang angin kencang), dinding (yang tersisa) harus dibongkar semua. Atau diberi penguatan,” kata Karmin Selasa (26/2).

Berdasarkan asesmen yang dilakukan DPUPKP Sleman, kualitas beton barak pengungsian kurang bagus. Dinding sisi barat dan timur berpotensi roboh.
“Penguatan harus dilakukan. Terutama dinding sebelah barat dan timur, yang kami nilai rentan roboh ketika ada angin besar lagi,” kata Sukarmin.

Dinding barat dan timur barak pengungsian Donokerto pada bagian atas, tidak terdapat ring balk. Ring balk berfungsi sebagai pengikat pasangan bata dan meratakan beban dari struktur di atasnya. “Mengkhawatirkan jika ada angin kencang lagi. Itu bisa runtuh karena tidak ada penguatan ring balk-nya. Diperlukan penguatan sebelum digunakan kembali, demi keamanan pemakai,” kata Sukarmin.

Dikatakan, dengan kerusakan dan kualitas bahan bangunan yang buruk, menyebabkan biaya rekonstruksi barak membengkak. Belum bisa dipastikan besaran dana yang dibutuhkan. “Kesimpulannya, bangunan barak yang runtuh kemarin itu kami rekomendasikan untuk tidak dipergunakan sebelum ada penguatan,” tegasnya.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman, Makwan menyebut, banyaknya angin kencang dan pohon tumbang di Sleman belum masuk kategori darurat bencana. “Kalau kategori rawan bencana iya. Tapi kalau darurat, tidak. Kan beda, rawan dengan darurat,” jelas Makwan.

Terkait dengan kerusakan Barak Pengungsian Donokerto, pihaknya menyarankan desa mengajukan dana ke provinsi. Sebab barak tersebut merupakan bantuan dari provinsi, namun diswakelola desa.

Makwan mengatakan, masyarakat agar sadar dengan potensi bencana hidrometeorologi di Sleman. Yaitu banjir, longsor dan angin kencang. “Cuaca ekstrem di Sleman masih berpotensi terjadi,” kata dia. Kepala Urusan Pembangunan, Desa Donokerto, Turi, Sukiman menaksir kerugian mencapai ratusan juta rupiah. Gedung yang dibangun pada 2014 itu seluas 34×28 meter persegi. “Asal dananya dari provinsi, yang selanjutnya diswakelola masyarakat. Total dananya Rp 1,21 miliar,” jelas Sukiman. (har/iwa/by/mg4)