Perjalanan panjang yang melelahkan. Tetapi sekaligus mengasyikan. Untuk memperoleh pengalaman memang butuh perjuangan. Ini yang saya rasakan bersama rombongan ketika melakukan perjalanan akademik di tiga negara kawasan ASEAN.

Terbang menggunakan pesawat yang kondang dengan harga tiket murah mendarat di Bandar Udara International Changi Singapura. Muter-muter sebentar di Singapura. Lalu melanjutkan perjalanan darat menuju Thailand. Ke Thailand harus melintasi Malaysia dari ke ujung ke ujung. Perjalanan hampir memakan waktu hampir 16 jam. Istirahat sebentar. Menikmati destinasi di Hat Yai. Keesokan harinya mengikuti konferensi internasional di Thaksin University yang berada di Songkhla.

Oleh-oleh yang bisa dibagi dari pertemuan ilmiah diikuti dari berbagai perguruan tinggi di ASEAN itu  perlu adanya reorientasi dalam bidang pendidikan. Pendidikan lebih menekankan untuk menyiapkan peserta didik tidak meninggalkan akar budayanya. Tetap memperhatikan kearifan lokal. Karena hal tersebut sebagai pondasi agar peserta didik tetap berpijak di bumi. Menghargai lingkungan sendiri. Kemampuan yang dimiliki seperti ini akan menjadi keunikan yang membedakan kualitas sumber daya peserta didik  anak negeri dengan negara lain.

Tetapi di sisi lain pendidikan tidak hanya fokus pada kearifan lokal. Pendidikan perlu membuka diri menyesuaikan dengan pentas perkembangan global. Dunia sudah terlanjur disatukan. Semua bidang mengarah big data. Terintegrasi. Maka  situasi ini menjadi arus untuk memaksa setiap orang  tenggelam di dalamnya. Kalau tidak tentu akan tertinggal kereta perubahan jaman.

Maka yang perlu dipertimbangkan dalam proses pendidikan sekarang adalah mengantarkan kualitas sumber daya manusia yang mampu berkompetisi dengan negara-negara lain di dunia. Yang perlu dipersiapkan secara matang dari sekarang, bukan hanya menyiapkan untuk kebutuhan daerahnya sendiri. Tetapi kebutuhan sumber daya manusia mampu memenuhi kebutuhan international.

Hal itu perlu dilakukan karena dunia yang terbuka memberi kesempatan siapa pun yang mememiliki kompetensi memadai bisa bekerja di negara-negara lain. Bila di negeri sendiri tak mampu menampung kompetensi yang dimiliki oleh seseorang tersebut.

Setelah mengikuti konferensi internasional di Thaksin University perjalanan dilanjutkan menuju Malaysia. Kegiatan akademik di Malaysia dengan mengunjungi Universitas Pendidikan Sultan Idris. Kali ini mahasiswa yang diberi ruang untuk belajar menulis jurnal. Bagi mahasiswa kegiatan ilmiah workshop menulis jurnal di negeri orang menambah  bekal pengalaman internasional. Pengalaman akademik internasional menjadi bahan evalausi diri sejauh mana pencapaian yang sudah dimiliki oleh mahasiswa tersebut. Masih tertinggal. Atau sudah melaju kencang.

Mahasiswa asyik menikmati hidangan kiat-kiat menembus jurnal  dengan nara sumber dosen Universitas Pendidikan Sultan Idris, kami yang semua anggota rombongan merupakan pengajar di perguruan tinggi melanjutkan perjalanan menuju International Islamic University Malaysia.

Pada kunjungan kali ini kami belajar mengenai pengelolaan perguruan tinggi. Internasionalisasi program pendidikan sangat kental di sini. Dan atmosfer akademik penuh dengan nuansa mendunia. Tak sedikit mahasiswa asing yang menempuh pendidikan di universitas tersebut. Namun hebatnya tak meninggalkan nilai-nilai akidah. Ketika berada di International Islamic University Malaysia, aura relijiositas amat terasa,

The academic journey kami memang amat padat. Tak butuh  waktu lama untuk istirahat. Agenda dilanjutkan dengan mengunjungi tokoh. Tokoh satu ini orang top dalam dunia pemikiran. Akademisi. Intelektual. Cendekiawan. Pemikir. Apapun istilahnya yang dilekatkan kepadanya menggambarkan tentang sosok yang mengabdikan kehidupannya pada ilmu pengetahuan.

Bagi saya silaturahmi dengan tokoh besar ilmuwan merupakan puncak dari segala puncak perjalanan akademik. Imajinasi saya sudah membayangkan akan mendapat pengalaman akademik yang luar biasa. Tentang tokoh ini akan dikisahkan pada edisi selanjutnya.

Penulis adalah dosen Fakultas Psikologi UAD