SLEMAN – Keberadaan pohon pule di Jalan Seturan yang tumbuh besar dan memakan bahu jalan menjadi perhatian Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi). Direktur Eksekutif Daerah Walhi DIJ, Halik Sandera mengatakan pohon yang tumbuh di trotoar menjadi masalah klasik.

“Dalam konteks blue print, sejak dulu pembangunan trotoar dan pohon selalu bermasalah,” kata Halik, Senin(25/2).

Dia berharap Dinas Pekerjaan Umum dan Dinas Lingkungan Hidup sebelum membangun trotoar harus berkolaborasi. Sehingga kejadian pohon tumbuh dan merampas hak pejalan kaki tidak terjadi lagi.

Penanaman pohon dengan pot dan diletakkan di trotoar juga bisa merampas hak pejalan kaki. Bisa saja ukuran pot terlalu besar dan menghambat pejalan kaki.

“Memang tujuannya (diberi pot) agar motor tidak naik ke trotoar. Tolong hak pejalan kaki jangan diabaikan,” kata Halik.

Pemindahan pohon di trotoar bisa saja dilakukan. Namun pemerintah harus menyediakan lokasi baru. “Sebelum dipindah, setidaknya sudah disediakan pohon pengganti,” ujar Halik.

Terkait dengan pohon pule di Seturan, pihaknya meminta agar tidak ditebang. Dia meminta agar ditambah rambu agar tidak terjadi kecelakaan.

Halik mengatakan, fungsi pohon berfungsi mengurangi polusi. “Pemotongan dahan dilakukan bertahap. Jangan langsung semuanya,” kata Halik.

Pohon juga berfungsi sebagai pengatur suhu. Pohon tersebut menyebabkan lokasi menjadi sejuk. “Menyeimbangkan suhu di sekitarnya,” kata Halik.

Kabid Pertamanan dan RTH, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman, Junaidi mengatakan, di Sleman jumlah pohon di pinggir jalan lebih dari 22 ribu. “Didominasi angsana dan trembesi,” kata Junaidi.

Pihaknya berupaya melakukan perawatan dan pemotongan volume daun berkala. Terutama pada musim hujan sehingga potensi pohon tumbang minim. “Kami menerjunkan dua tim khusus,” ujar Junaidi. (har/iwa/mg2)