Sebagai generasi keempat, Indrawati Gondowinoto ingin mengangkat batik keluarganya. Dalam selembar kain, seluruh teknik proses pembuatan batik Pekalongan tergambar apik.

SEVTIA EKA N, Sleman

ADA yang tak biasa dengan motif batik yang tergambar di atas kain dengan panjang 270 sentimeter dan lebar 105 sentimeter itu. Motifnya tidak seperti batik umumnya. Baik batik khas Jogja, Solo, Lasem, maupun Pekalongan.
”Itu namanya motif proses pembuatan batik,” tutur Indrawati Gondowinoto menyebut nama batik karyanya itu beberapa waktu lalu.

Diberi dengan nama yang agak panjang itu karena seluruh proses pembuatan batik tergambar apik di atas kain berwarna putih tersebut. Termasuk ngemplong. Sebuah teknik yang mulai banyak ditinggalkan para perajin batik belakangan ini.

Dalam karyanya ini, Lin, sapaan Indrawati Gondowinoto, sangat detail. Dia sangat memperhatikan seluk-beluk batik. Teknik ngetel, contohnya. Gambar teknik mencuci batik dengan air merang ini juga dia tuangkan dalam selembar kain itu. Ibaratnya seperti buku panduan membatik.

”Ada 19 proses pembuatan yang dituangkan (sebagai motif, Red) plus teknik perawatannya,” ucapnya.

Namun, belasan proses plus perawatan yang dituangkan Lin bukan batik Jogja. Melainkan batik Pekalongan: asal usul leluhurnya. Generasi keempat perajin batik Pekalongan ini memang ingin mengangkat peninggalkan nenek moyangnya. Lantaran jamak yang tak mengetahui dengan proses batik Pekalongan.

”Terutama batik keluarga saya,” tuturnya.
Berbagai gambar proses pembuatan batik itu diperoleh dari catatan Gan Sam Gie. Dengan ketelatenan dan kemahiran, perempuan 50 tahun ini menuangkan berbagai catatan buyutnya di atas selembar kain katun. Hampir selama enam bulan.

”Karyanya (buyut) ramai pada tahun 1870. Saya mulai belajar dari pola-pola yang telah saya simpan,” katanya.

Terlahir sebagai keluarga perajin batik, Lin pun bertekad ingin meneruskan bisnis keluarganya. Sehari-hari, Lin dibantu dua karyawannya, memproduksi batik. Dia juga tergabung dalam Sekar Jagad Nusantara.
Namun, Lin belum berencana memproduksi karyanya yang mendapat penghargaan dari Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) dengan kategori Batik Pertama dengan Motif Proses Pembuatan Batik Tulis pada Desember 2018 itu secara masal. Saat ini dia fokus menulis cerita batik keluarganya.
”19 proses membatik juga akan diulas secara detail,” kata perempuan yang tinggal di Jalan Sorogan ini. (zam/tif)