SEBAGAIMANA diketahui Tagana masuk di antara 12 potensi dan sumber kesejahteraan sosial (PSKS) sesuai Peraturan Menteri Sosial No. 08 Tahun 2012. Keseriusan pemerintah daerah dalam membina Tagana itu mendapatkan pengakuan dari Kementerian Sosial RI. Beberapa waktu lalu, Kementerian Sosial pernah menganugerahkan penghargaan kepada Gubernur DIY Hamengku Buwono X.

Pemda DIY melalui Dinas Sosial DIY dinilai telah melakukan terobosan sekaligus inovasi dengan mendorong lahirnya Keputusan Gubernur DIY tentang Forum Koordinasi Taruna Siaga Bencana. Di samping itu diadakan rekrutmen ratusan tenaga Tagana. Inovasi yang dilakukan dinas sosial sebagai pembina Tagana di level provinsi tak berhenti di situ. Instansi yang dikepalai Untung Sukaryadi ini juga meluncurkan berbagai inovasi.

Di antaranya dengan melahirkan Pramuka Siga Bencana atau Pragana.“Pragana merupakan kolaborasi dengan Tagana dengan melibatkan dunia pendidikan dan gerakan kepanduan. Mereka kami ajak agar peka dan peduli dengan penanganan bencana,” ujar Kepala Dinas Sosial DIY Untung Sukaryadi kemarin Senin (25/2).

Selain Pragana, Dinas Sosial DIY juga memiliki difabel siaga bencana atau Difagana. Ini hasil kerja sama sekaligus penyiapan difabel siap siaga menghadapi bencana. Birokrat yang selalu berpikir dinamis itu juga meluncurkan kegiatan Kartagana. Atau karya bakti masyarakat kerja sama karang taruna dengan Tagana.

Kembali tentang Difagana dibentuk pada November 2017. Awalnya Tim Difagana DIY terdiri atas 50 orang penyandang difabilitas. Untung menargetkan Difagana terbentuk di setiap kecamatan se-DIY. Setiap anggota Difagana mendapatkan pendidikan dan pengetahuan mengenai pengelolaan shelter, pengelolaan logistik, dapur umum dan mendirikan tenda.

Tentang pendirian tenda, Untung menceritakan, jika orang-orang umumnya memerlukan waktu tiga menit, maka anggota Difagana hanya perlu waktu empat menit. “Artinya kemampuan mereka kompetitif dengan yang lain,” terang pria asli Seyegan, Sleman ini. Lebih jauh dikatakan, 70 persen anggota Difagana ini merupakan difabel tuna grahita.

Disusul tuna rungu dan tuna wicara. Pengiriman tim Difagana dalam rangka mencegah penyandang disabilitas korban gempa menjual empati kepada masyarakat. “Meski dengan keterbatasan, mereka harus bangkit menolong orang lain,” tegasnya.

Untung menambahkan, ada tugas tambahan Difagana yakni memanfaatkan potensi alam untuk kemandirian bagi kehidupan mereka. Misalnya membuat wedang uwuh. Memanfaatkan bahan-bahan sekitar untuk membuat jamu dan lainnya. “Saat mereka tidak dikirim ke lokasi bencana, mereka tetap bisa mandiri,” ungkapnya.

Saat terjadi tsunami di Palu, Sulawesi Tengah, Tim Difagana DIY mengirimkan empat personelnya pada akhir Desember 2018. Mereka membantu memulihkan kondisi psikologi para korban yang trauma pascagempa dan tsunami. Mereka berada di Palu selama 50 hari.

Mereka dikirim sebagai upaya rehabilitasi dan pendampingan korban gempa. “Mereka dikirim ke sana guna memberi penguatan kepada korban bencana yang akhirnya menjadi difabel,” ujar Untung.

Sebelum berangkat, mereka mendapatkan bekal pendidikan dan pelatihan terkait pendampingan sosial. “Kami juga bekali pengetahuan soal mitigasi bencana,” jelasnya. Kehadiran Tim Difagana DIY bisa memotivasi para korban gempa agar kembali bersemangat menjalani hidup. (kus/mg4)