MAHASISWA sebagai agen perubahan sudah selayaknya menjadi contoh yang baik bagi masyarakat sebagai cerminan bayangan kondisi sosial negara pada masa yang akan datang. Dengan darah mudanya, tentunya mahasiswa tidak diragukan lagi bahwa mahasiswa merupakan kalangan yang mempunyai semangat berapi-api. Ada banyak peristiwa-peristiwa penting di negeri ini yang dilatar belakangi oleh pergerakan mahasiswa, dan reformasi adalah sala satu buktinya.

Meskipun demikian, kita juga perlu melihat akan realita dari sebagian golongan yang mengatasnamakan mahasiswa itu pada apa yang terjadi di depan mata kita sendiri. Banyak dari kita membaca berbagai tulisan di media massa tentang semangat yang dibakar oleh mahasiswa yang berkaitan dengan arah negara di masa yang akan datang. Tapi di balik itu semua justru sering terjadi perilaku-perilaku yang sangat tidak masuk akal jika diselaraskan dengan tujuan awal mahasiswa itu sendiri, misalnya saja mencontek.

Mencontek adalah satu dari sekian perilaku yang tidak jelas filosofinya tapi seolah menjadi jalan pintas demi kepentingan nilai akademik semata. Mencontek seakan menjadi kebiasaan yang kerap dilakukan dalam dunia pendidikan negeri ini. Mencontek seolah menjadi candu bagi sebagian mahasiswa. Tentu hal ini bukanlah suatu hal yang bisa dianggap sepele. Apa jadinya Indonesia jika sumber daya manusianya adalah orang-orang yang memiliki jiwa pembohong, kreator kepalsuan yang hanya bisa memindahkan karya orang lain. Bisa jadi ini adalah alasan mengapa hingga saat ini Indonesia belum memiliki produk hukum yang asli buatan anak bangsa.

Apabila mencontek merupakan sebuah perbuatan kebohongan, maka rasanya perbuatan ini adalah salah satu bibit korupsi bagi masa yang akan datang. Bagaimana tidak jika potensi diri sendiri saja yang merupakan anugerah yang luar biasa dari Tuhan bisa dibohongi, apalagi perbuatan lain yang mencakup kepentingan orang banyak di dalamnya. Hal ini sangat menghawatirkan jika dalam suatu peristiwa yang membutuhkan keadilan justru sang pengadil itu sendiri memiliki sifat yang ragu yang justru sifat ini akan menimbulkan kelemahan independensi keputusan yang harus diambil.

Berbicara tentang keadilan memang tak bisa lepas dari sebuah kejujuran. Tidak akan pernah ada kata adil tanpa adanya sebuah kejujuran. Adil dan jujur bukan hanya sebuah kata yang selalu berdampingan, tapi juga saling melengkapi. Mustahil jika ada seorang pembohong yang bisa menegakan keadilan dengan baik. Orang seperti ini sangat riskan akan ketidakadilan ketika berhadapan dengan apa yang menjadi pertimbangan besar dalam mencapai keputusan yang dicita-citakan.

Dalam menciptakan produk hukum yang sesuai dengan asas-asas Pancasila juga membutuhkan sumber daya manusia yang terbiasa menciptakan karya yang bisa dipertanggungjawabkan. Orang-orang yang sudah terbiasa mencontek dalam setiap ujian yang dihadapinya tentu sudah terbiasa dengan hal-hal yang instan. Sudah terbiasa dengan apa yang dimiliki orang lain, bukan apa yang dimiliki oleh dirinya sendiri.

Bagaimana bisa menciptakan suatu karya baru jika sebelumnya hanya bisa memindahkan. Hal ini justru akan berpotensi juga terhadap berkembangnya fenomena ketergantungan negara terhadap negara lain. Sungguh betapa bahayanya bila ini semua terjadi terlebih hal ini terjadi di bidang hukum yang pada hakekatnya memiliki kedudukan yang sangat tinggi. Hal ini juga memungkinkan hukum yang ada tidak akan mendapatkan kepercayaan penuh oleh rakyat sehingga proses hukum tidak akan berjalan dengan stabil. Masyarakat akan menyimpan doktrin dalam dirinya sendiri bahwa tidak ada gunanya mematuhi hukum yang ada karena tujuannya senidiri berbanding terabalik dengan fakta yang ada.

Mahasiswa sebagai contoh seharusnya bisa berperan lebih bermula dari dunia perkuliahan itu sendiri. Perbuatan mencontek justru akan lebih mencoreng dari korupsi yang dilakukan sebagian oknum yang mewakili masyarakat di pemerintahan. Hal ini dianggap nyata karena pada dasarnya setiap kritik harus keluar dari jiwa orang yang tidak memiliki keterbalikan dari apa yang dia perjuangkan. Jangan sampai idealisme yang merupakan harta termahal dari mahasiswa jatuh hanya karena perbuatan buruk dari dari dirinya sendiri. Harapannya mahasiswa senantiasa berperilaku jujur, termasuk dalam kegiatan perkuliahan. (ila)

*Penulis merupakan mahasiswa Hukum Tata Negara UIN Sunan Kalijaga Jogjakarta