SLEMAN – Ada 25 Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di Sleman. Namun tidak ada separonya, tepatnya hanya 10, yang memiliki Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

Kepala Dinas Kesehatan Sleman, Joko Hastaryo mengatakan, IPAL di Puskesmas dibangun Dinas Kesehatan. Selain yang sudah ada, Puskesmas lain juga akan segera dilengkapi IPAL. Namun, pembangunannya bertahap.
“Pada 2019 ini rencananya akan dibangun di Puskesmas Mlati 2 dan Godean 1,” kata Joko Minggu (24/2).

Sesuai Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) 75/2014 tentang Puskesmas, menyatakan seluruh fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) wajib memiliki IPAL. Agar lingkungan terjaga dari limbah Puskesmas.

Joko mengatakan, 10 puskesmas yang memiliki IPAL merupakan Puskesmas yang melayani rawat inap. Rinciannya, Puskesmas Tempel 1, Turi, Ngaglik 2, Ngaglik 1, Kalasan, Berbah, Ngemplak 1, Minggir, Mlati 1, dan Sleman.

Hambatan pembangunan IPAL, kata Joko, lantaran biayanya besar. Setiap unit IPAL butuh dana Rp 700 juta. “Sehingga dibuatnya bertahap,” jelasnya.
Kepala Puskesmas Tempel I, dr Anna Ratih W MPH mengatakan, sebagai bagian pelayanan dari masyarakat, pihaknya telah menyediakan fasilitas IPAL sejak 2017.

Dibangun setelah pembangunan ruang rawat inap selesai.”Adanya IPAL merupakan bentuk pelayanan kepada masyarakat dan melestarikan lingkungan,” kata Anna.

Dengan tersedianya IPAL, limbah dapat diolah secara mandiri. Setelah pengolahan, limbah yang terbuang kondisinya higienis. “Limbah bisa kami olah sendiri. Jadi akan lebih bersih lagi air buangannya. Di dalam kolam penampungan kami kasih ikan, kalau ikannya tidak mati, berarti airnya bersih,” ungkap Anna.

Ketua Forum Komunikasi Sungai Sleman (FKSS) AG Irawan mengatakan, masih banyak kasus pencemaran akibat IPAL yang tidak terpantau. “Ada banyak IPAL hanya pengolahan dan sistemnya berjalan. Tapi indikatornya apakah mencemari atau tidak, itu yang belum terpantau,” kata Irawan.

Dia mengatakan, tidak terpantaunya IPAL karena letak IPAL ada di bawah tanah. Sehingga, IPAL itu bocor atau tidak, sulit terpantau. “Tahu-tahu sudah mencemari,” ujarnya.

Dia meminta pemerintah memonitor IPAL Puskesmas. Sehingga kerusakan IPAL bisa dicegah. “Nanti kalau sudah bocor dan mencemari, baru bingung membenahi. Biasanya seperti itu,” kata Irawan. (har/iwa/mg4)