JOGJA – Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Jogja ditawari untuk melanjutkan pendidikan tinggi ke negeri Belanda. Meski bukan Negara Islam, kerjasama UIN Sunan Kalijaga dengan perguruan tinggi di Belanda menghasilkan berbagai karya.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kerjasama UIN Sunan Kalijaga, Dr. Waryono mengatakan kerjasama dengan Negeri Belanda sebenarnya sudah lama dilakukan. “Bahkan beberapa ahli atau dosen asal Belanda yang pernah mengajar di sini meninggalkan karya tulis berupa buku yang cukup fenomenal menyangkut keislaman,” ungkapnya beberapa waktu lalu.

Menurut Waryono, belajar ilmu keislaman tidak harus ke negara Islam. Dia menilai belajar kepada outsider pun penting. Selain mendapatkan ilmu akademis, pengalaman ke luar negeri merupakan kesempatan untuk mempelajari ide-ide baru yang akan membantu memperluas sudut pandang dan toleransi tinggi dalam menyikapi berbagai persoalan.

Koordinator Tim Beasiswa Nuffic Neso Indonesia Indy Hardono menambahkan tentang pentingnya kuliah keluar negeri. Selain mendapatkan ilmu akademis, pengalaman ke luar negeri merupakan kesempatan untuk mempelajari ide-ide baru yang akan membantu memperluas sudut pandang dan toleransi tinggi dalam menyikapi berbagai persoalan. Studi ke luar negeri berarti international mobility.

Belajar di luar negeri juga meningkatkan kesempatan di dunia kerja global. Perusahaan dari negara-negara di seluruh dunia terus berinvestasi di pasar internasional. ”Banyak lembaga memperhitungkan calon karyawan dengan international experience. Dengan ijazah luar negeri, kesempatan bekerja di dalam maupun luar negeri semakin terbuka lebar,” katanya.

Mengapa Belanda? Indy menjelaskan kualitas dan standar pendidikan tinggi di Belanda dibuktikan dengan 13 dari 14 universitas risetnya masuk dalam top 200 besar dunia. Selain program studinya beragam, kuliah di Belanda juga membuka akses mendapatkan buku-buku langka dan dibimbing dosen-dosen terbaik di bidangnya, dengan metoda pengajaran yang interaktif.(cr7/pra/mg2)