GUNUNGKIDUL – Kebijakan sekolah melarang siswanya mengendarai sepeda motor ke sekolah sangat dilematis. Seperti kebijakan yang diambil SMPN 2 Tepus. Di satu sisi, kebijakan itu untuk meminimalisasi kecelakaan lalu lintas. Namun, di sisi lain, kebijakan itu justru memunculkan persoalan baru. Itu menyusul video viral di media sosial.

Dalam rekaman video amatir itu terlihat beberapa siswa naik angkutan pedesaan (angkudes). Beberapa siswa yang belakangan diketahui pelajar SMPN 2 Tepus itu menumpang dengan cara berbahaya. Yakni, duduk di atas atap angkudes.

Jumadi, guru bimbingan konseling SMPN 2 Tepus berjanji bakal memberikan arahan. Sekolah juga bakal berkoordinasi dengan wali murid.

”Agar orang tua bisa antar jemput anaknya,” jelas Jumadi di kantornya, Jumat (22/2).

Dari penelusuran Radar Jogja, orang tua yang bersedia mengantar dan menjemput anaknya dari sekolah hanya 50 persen. Sisanya siswa berangkat dengan naik angkudes.

Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Gunungkidul Bahron Rasyid mengapresiasi aturan larangan siswa mengendarai sepeda motor. Namun, Bahron meminta agar tak ada lagi siswa yang naik di atas atap angkudes.

Dikonfirmasi terpisah, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Gunungkidul Syarief Armunanto menyebut ada dua unit armada yang dioperasikan untuk pelajar. Semuanya gratis.

Saat ini, bekas kepala bappeda ini mengaku ada satu unit armada yang belum beroperasi. Namun, dia belum mengetahui rute operasionalnya.

”Untuk rutenya, nanti kami bahas terlebih dahulu,” katanya.

Sementara itu, angka kecelakaan lalu lintas (laka lantas) yang melibatkan pelajar tinggi. Berdasar data Satlantas Polres Gunungkidul, ada 127 laka lantas yang melibatkan anak pada 2018.

”Satu di antaranya meninggal dunia,” kata Kanit Laka Satlantas Polres Gunungkidul AKP Sony Yuniawan. (gun/zam/mg4)