“Karang taruna menjadi wadah sekaligus sarana pengembangan setiap anggota masyarakat yang tumbuh dan berkembang atas dasar kesadaran dan tanggung jawab sosial,” ujar Anggota Komisi D DPRD DIY Nurjanah ,Jumat(22/2).

Tanggung jawab sosial yang dimaksud berasal dari, oleh dan untuk masyarakat. Terutama generasi muda di desa dan kelurahan. “Khususnya yang bergerak di bidang usaha kesejahteraan sosial,” katanya.

Dengan adanya karang taruna menjadi wadah menampung aspirasi masyarakat. Tujuannya demi mewujudkan kesejahteraan sosial yang semakin meningkat bagi generasi muda. Mencapai sasaran itu, karang taruna bersama pemerintah dan komponen masyarakat lainnya harus berperan aktif menanggulangi berbagai masalah kesejahteraan sosial. Khususnya yang dihadapi generasi muda.

“Baik yang bersifat preventif, rehabilitatif maupun pengembangan potensi generasi muda di lingkungannya,” terang Nurjanah.

Fungsi pokok karang taruna antara lain penyelenggara usaha kesejahteraan sosial, pendidikan dan pelatihan, pemberdayaan dan penyelenggaraan pengembangan jiwa kewirausahaan. Karang taruna juga berfungsi pemberi pengertian, pemupukan dan pengembangan kesadaran tanggung jawab maupun pemupuk kreativitas generasi muda.

Karang taruna menjadi salah satu wadah pembinaan dan pengembangan generasi muda yang dibentuk oleh masyarakat. Titik berat program karang taruna adalah pada bidang kesejahteraan sosial. Seluruh generasi muda di desa/kelurahan adalah anggota/warga karang taruna. “Karang taruna menggunakan prinsip swadaya. Kerja sama dengan organisasi kepemudaan lainnya adalah saling bersinergi,” ungkap anggota dewan yang tinggal di Wirobrajan, Jogja ini.

Dikatakan, karang taruna punya potensi besar ikut menyelesaikan permasalahan sosial di masyarakat. Karang taruna juga dapat berperan aktif dalam menanggulangi 26 Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) yang ada di DIY.

Adapun 26 PMKS itu antara lain anak balita telantar, anak telantar, anak berhadapan dengan hukum, anak jalanan, anak dengan kedisabilitasan (ADK) dan lanjut usia telantar. Karang Taruna, lanjut Nurjanah, sesuai Peraturan Menteri Sosial (Permensos) No. 08 Tahun 2012 masuk di antara 12 potensi dan sumber kesejahteraan sosial atau PSKS.

Sebelas PSKS lainnya meliputi pekerja sosial profesional, pekerja sosial masyarakat (PSM), taruna siaga bencana (Tagana) dan lembaga kesejahteraan sosial (LKS). Kemudian lembaga konsultasi kesejahteraan keluarga (LK3), keluarga pioner, wahana kesejahteraan sosial keluarga berbasis masyarakat (WKBSM) dan wanita pemimpin kesejahteraan sosial.

Selanjutnya, penyuluh sosial yang meliputi penyuluh sosial fungsional dan penyuluh sosial masyarakat, tenaga kesejahteraan sosial kecamatan (TKSM) serta dunia usaha. Lebih jauh dikatakan, karang taruna punya potensi besar turut menyelesaikan permasalahan sosial di masyarakat.

Karena itu, karang taruna di DIY harus bisa menjalankan tugas pokok dan fungsinya sekaligus berkontribusi positif bagi masyarakat.” Karang taruna harus peka dengan tanda-tanda perubahan zaman maupun kebutuhan masyarakat,” pintanya.

Peran itu harus dioptimalkan karena karang taruna memiliki fungsi sosial, kemitraan, dan fungsi improvisasi seperti wirausaha. Dengan begitu, karang taruna dapat mengembangkan banyak hal terkait upaya menanggulangi PMKS. Juga menggerakkan sektor pariwisata, program sosial, hingga lingkungan.

Tumbuh kembangnya desa-desa wisata DIY sebagian besar dipelopori para pemuda. Mereka berhasil mengembangkan banyak destinasi wisata. Dengan berkembangnya desa-desa wisata itu telah membuka peluang kerja sehingga dapat mengurangi angka pengangguran.

Nurjanah menambahkan, era digital memberikan banyak peluang bagi generasi muda di DIY menghasilkan karya-karya kreatif. Karang taruna harus menjadi pelopor pemanfaatan teknologi guna menciptakan industri dan ekonomi kreatif. (kus/mg3)