Peristiwa berdarah terjadi di wilayah Kalasan, Sleman sekitar 70 tahun lalu. Menewaskan banyak tentara pelajar. Peristiwa heroik itu terangkum dalam Pertempuran Plataran.

JAUH HARI WAWAN S, Sleman

SIANG itu langit di atas Monumen Plataran, Selomartani, Kalasan tampak cerah. Keberadaan monumen itu mungkin tak banyak yang tahu. Karena terletak di tengah desa. Tepatnya di Dusun Plataran.

Namanya memang tak setenar Monumen Serangan Oemoem 1 Maret yang berada di kawasan Malioboro, Kota Jogja. Namun, bicara sejarahnya, Monumen Plataran termasuk memiliki cerita tersendiri untuk mengenang jasa pahlawan Indonesia. Terutama taruna bangsa yang berjuang mempertahankan Indonesia dalam kurun waktu 1945 – 1949.

Monumen itu dibangun atas prakarsa Mayor Jenderal TNI Wijogo Admodarminto. Diresmikan 11 November 1977. Tanah Plataran itulah yang menjadi saksi bisu pertumpahan darah antara anggota TNI dengan pasukan Belanda. Saat itu Belanda ingin menghabisi nyawa Komarudin, seorang komandan TNI berpangkat letnan yang terkenal akan kekebalannya dari senjata.

Belanda mendapat informasi Komarudin tinggal di Dusun Plataran. Tentara Belanda pun menyerbu dusun tersebut tanpa ragu dan menemukan seorang komandan tentara yang konon mirip Komarudin.

Pertempuran pun tak terhindarkan. Selama hampir tiga jam. Tak sedikit tentara pelajar tewas. Lima di antaranya kadet (taruna calon perwira TNI), dua perwira instruktur, dan tentara pelajar lainnya.

Salah satu perwira gugur adalah Letnan Husein. Yang dipenggal kepalanya oleh tentara Belanda. Kepala Husein kemudian dibawa oleh tentara Belanda sebagai bukti kepada komandannya. Bahwa mereka telah berhasil melumpuhkan Komarudin. Belakangan baru diketahui jika sosok tewas tersebut Letnan Husein.

Nah, untuk menghormati dan mengenang kisah heroik itu, warga Selomartani membentuk komunitas. Dinamakan Komunitas Historia 24249. “Nama itu diambil berdasarkan peristiwa Pertempuran Plataran,” ujar Nuriel Huda, ketua komunitas.

Keberadaan komunitas semata-mata untuk mengenalkan kembali sejarah perjuangan pahlawan kepada masyarakat. Terutama bagi generasi muda. Untuk menumbuhkan rasa nasionalisme. “Karena anak muda sekarang jarang yang tahu sejarah,” ungkapnya.

Lantas bagaimana caranya? Digelarlah sosiodrama. Untuk menarik perhatian anak-anak muda. Rangkaian peristiwa Pertempuran Plataran dibalut apik dalam sebuah drama. “Tak kurang 200 orang dari segala elemen masyarakat ikut terlibat,” kata pria paro baya itu.

Uniknya, tanpa naskah. Meski melibatkan ratusan orang yang awam dalam seni drama maupun teater. Peserta hanya diberi gambaran secara garis besar. Tentang peristiwa Plataran.

Banyak properti yang digunakan setiap kali pementasan. Senjata dibuat sangat mirip dengan aslinya. Kendaraan juga disesuaikan dengan yang digunakan saat peristiwa itu. “Semuanya diusahakan identik,” ucapnya.

Untuk efek dramatis, Nuriel meminta agar masyarakat tidak kaget ketika Komunitas Historia 24249 sedang pentas. Banyak suara ledakan yang akan terjadi. “Kami gunakan petasan untuk efek dramatis, dan suasana mencekam pertempuran itu semakin terasa,” kata dia.

Namun, Nuriel memastikan semua aman. Sebab dia juga telah berulang kali latihan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.

Komunitas ini, kata dia, bukan hanya untuk masyarakat sekitar Plataran. “Boleh, silakan saja kalau ada yang mau bergabung, monggo saja,” kata dia. (riz)