SLEMAN – Hujan deras yang mengguyur daerah Donokerto, Turi selama kurang lebih satu jam mengakibatkan tembok gedung serbaguna milik Pemerintah Desa Donokerto setinggi 12 meter roboh. Selain itu, angin kencang juga membuat beberapa kejadian pohon tumbang di beberapa wilayah Sleman.

Salah seorang saksi mata, Sukiman, 58, menuturkan kejadian itu terjadi sekitar pukul 14.30. Saat itu angin tiba-tiba bertiup kencang.

“Tidak kelihatan, semuanya jadi putih, dan disusul hujan angin sangat kencang,” kata Sukiman saat ditemui di Balai Desa Donokerto, Turi, Jumat (22/2).

Kejadian itu, kata dia, berlangsung cukup singkat. Hanya sekitar lima menit. Namun menimbulkan kepanikan masyarakat. “Pas kejadian saya di kantor, yang lain panik, semua buru-buru keluar menyelamatkan diri,” kata dia yang juga menjabat sebagai Kaur Pembangunan Desa Donokerto.

Lebih lanjut, Sukiman mengatakan tidak mengetahui persis kapan tembok sepanjang 34 meter itu roboh. Pasalnya dia fokus menyelamatkan diri. “Suara robohnya tembok itu tidak terdengar. Hanya ketika angin sudah reda dan semua mulai kelihatan baru diketahui tembok gedung sudah roboh,” jelasnya.

Angin kencang itu juga membuat atap gedung yang terbuat dari seng terbang, hingga menimpa Puskesmas Donokerto di depannya. Selain itu, genteng-genteng juga turut bererbangan. Pun juga banyak baliho yang roboh.

Belum selesai di situ, sesaat setelah kejadian angin kencang, disusul hujan es. Durasinya juga cukup singkat hanya sektar lima hingga sepuluh menit.

Lebih lanjut, gedung tersebut, kata dia, biasanya digunakan masyarakat untuk latihan badminton atau untuk acara hajatan. Beruntung saat kejadian tidak ada satu orang pun yang sedang berada di dalam gedung.

Bukan hanya digunakan sebagai fasilitas olahraga, gedung itu juga didungsikan sebagai barak pengungsian. Total dalam satu gedung itu bisa menampung sektar 1.500 orang. “Ya kalau ditaksir kerugiannya bisa sampai ratusan juta,” jelasnya.

Sukiman mengakui, konstruksi gedung bagian selatan memang tidak terlalu kuat. Pasalnya, saat pembangunan pihaknya tidak memprediksikan jika bakal ada kejadian angin kencang sedahsyat ini. “Ini sebenarnya gedung dibangun tahun 2014 dan hingga saat ini masih dalam proses pembangunan,” jelasnya.

Sementara itu, dari data sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman tercatat ada beberapa titik selain di Gedung Serbaguna Donokerto. Dari datanya, kejadian angin kencang itu terjadi di Turi, Kalasan,Tempel, dan Pakem. “Tim sudah kami terjunkan untuk melakukan evakuasi,” kata Makwan.

Dia juga turut mengingatkan kepada masyarakat agar selalu waspada. Sebab, potensi hujan yang disusul dengan angin kencang bisa terjadi di seluruh wilayah Sleman. “Kami imbau kepada masyarakat agar menghindari pohon besar jika hujan terjadi,” pintanya.

Terpisah, Kabid Pertamanan dan Ruang Terbuka Hijau Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Sleman Junaidi mengatakan selama musim hujan telah menambah tim untuk mengurangi volume ranting pohon. Pasalnya, di Sleman ada lebih dari 22 ribu pohon. “Sudah kami pangkas berkala, mulai yang rimbun dan yang kering,” kata Junaidi.

Lebih lanjut, Junaidi menjelaskan jenis pohon yang rawan di Sleman adalah angsana dan trembesi. Semua itu tersebar di hampir seluruh wilayah Sleman. “Tapi paling rawan angsana,” kata dia.

Hingga saat ini pihaknya telah melakukan pemangkasan di Jalan Nasional, Provinsi dan Kabupaten. “Untuk yang jalan desa dikerjakan desa,” kata dia.

Plt Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Mlati Etik Setyaningrum menjelaskan, berdasarkan kondisi dinamika atmosfer terkini, pola angin baratan sampai pertengahan April relatif masih kuat. Hal itu menandakan saat ini masih masuk musim hujan.

Selanjutnya berangsur-angsur dari akhir April sampai dengan Mei angin timuran sudah mulai masuk wilayah Indonesia pada umumnya. Hal itu menandakan sudah masuknya musim kemarau.

“Dari kondisi tersebut, diperkirakan berakhirnya musim hujan untuk wilayah DIJ sekitar akhir April, dan pada Mei, umumnya wilayah DIJ sudah memasuki musim kemarau,” jelas dia. (har/riz)